Islamic Education

Islamic Education
logo

Selasa, 23 Februari 2010

PROGRAM PEMBERDAYAAN PENYANDANG CACAT TUNA NETRA

ABSTRAKSI

“Setiap kategori kebutuhan berkaitan dengan lima aspek intelektual, aspek intelektual mengacu kepada kemampuan untuk berpikir cerdas dan rasional, atau yang berkaitan dengan kekuatan mengetahui (power of knowing). Aspek ini berhubungan dengan kemampuan mengembangkan, memahami, dan menguasai pengetahuan dan keterampilan. Salah satu pertanyaan penting yang sampai kini belum terjawab mengenai aspek ini adalah bagaimana orang belajar dan bagaimana orang dapat menggunakan kemampuannya pada tingkatannya yang maksimum” (Omvig, 1993:18)


1. LATAR BELAKANG

Dunia kesehatan dari hari ke hari semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan, tidak terkecuali dengan pengembangan pengobatan tradisional yang baik di lakukan oleh manusia seperti pijat refleksi. Pijat refleksi merupakan salah satu pengobatan tardisional yang langsung bekerja pada otot-otot yang lelah, dan juga dapat melancarkan peredaran darah. Didalam dunia kesehatan, pijat refleksi merupakan suatu keahlian khusus yang dimiliki oleh orang-orang terdidik dan terlatih.

Setiap individu mempunyai potensi masing-masing, asalkan potensi tersebut dapat terus dilatih dan dikembangkan, tidak terkecuali mereka para penyandang cacat, mereka juga mampu mengapresiasikan potensi yang terdapat pada dirinya, hanya saja diperlukan sebuah arahan dan bimbingan yang bisa dikemas dalam bentuk pelatihan skill, atau program-progaram pendidikan lain, sehingga diupayakan benar-benar menguasi suatu keahlian. Namun pada pelaksanaan dilapangan sering ditemukan hambatan-hambatan dalam prosesnya. Diantara hambatan tersebut adalah masalah dana, sumber daya manusia dan data.

Mengingat permasalahan tersebut diatas, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Islamic Education yang bergerak pada bidang pendidikan dan sosial masyarakat, mencoba untuk memberdayakan para penyandang cacat seperti tuna netra dengan memberikan berbagai training dan pelatihan skill diantaranya pelatihan pijat refleksi yang kemuadian dikemas dalam Progaram Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan Tema “Dengan jari aku melihat dunia, dengan jari aku berkarya”. Kegiatan ini menghadirkan instruktur lokal dan nasional.

2. CIRI-CIRI KHUSUS TUNANETRA
Menurut Anastasia Widjantin dan Imanuel Hitipeuw (1979:19) karakter atau ciri-ciri khusus tunanetra, diantaranya:

a. Rasa Rendah Diri
Rasa rendah diri timbul pada tunanetra dikarenakan kecacatannya, pengalaman-pengalaman tunanetra yang serba terbatas. Seperti dalam bergerak, atau berkomunikasi dengan orang awas mengakibatkan mereka selalu dihantui sikap pesimis, tidak percaya diri. Adapun perlindungan yang berlebihan dari orang awas dapat pula menimbulkan rasa rendah diri pada tunanetra, karena mereka merasa tidak mendapat kepercayaan.

b. Curiga Terhadap Orang Lain
Akibat keterbatasan rangsangan visual atau kurang mampu berorientasi dengan lingkungannya sehingga kemampuan mobilitasnya terganggu. Tunanetra tidak bisa langsung mengetahui bahaya atau rintangan-rintangan yang ada didepannya. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa tidak mudah baginya melakukan kegiatan yang diinginkan, sering terjadi kepala terbentur, tabrakan dengan orang lain atau terperosok. Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan ini dapat menimbulkan rasa sakit atau kecewa pada diri tunanetra, dia mulai mencurigai dunia seisinya, serta beranggapan bahwa orang lain yang bisa melihat merupakan musuh.

c. Blindsm
Blindsm adalah gerak-gerik tunanetra yang bisa dilakukan banyak tunanetra seperti menggerakan badan kedepan dan kebelakang, ataupun kekanan kekiri, bertepuk-tepuk, menggeleng-gelengkan kepala, menggerak-gerakan tangan didepan mata, dan banyak lainnya.

Gerak-gerik tersebut merupakan upaya untuk mendapatkan rangsangan dan disebut upaya rangsang. Telah kita akui sebagai akibat ketunanetraan maka terjadilah kehampaan rangsangan. Dengan gerak-gerik yang dilakukan para tunanetra mendapatkan rangsangan tertentu melalui indra yang masih mereka miliki. Dengan adanya rangsangan non visual ini para tunanetra mendapatkan bahan-bahan baru untuk dijadikan perbendaharaan pengalamannya.


d. Keterbatasan Konsep
Keterbatasan konsep pada tunanetra terjadi sebagai akibat tidak tahu atau kurang berfungsinya indera penglihatan. Kita ketahui bahwa proses pembentukan pendapat, konsep, dan sebagainya adalah proses yang cukup lama dan didapat melalui indera penglihatan. Oleh karena itu proses pembentukan konsep dan pendapat pada tunanetra relatif lebih sukar jika dibanding dengan orang awas. Maka dengan demikian jika tunanetra sampai pada taraf kesimpulan mereka akan mempertahankan dengan gigih kesimpulan dari konsep yang telah mereka miliki, tanpa menghiraukan bukti-bukti bahwa yang dipertahankan itu tepat atau tidak benar.

Setelah mengetahui karakteristik tunanetra, masih ada hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut berkaitan dengan pembuatan-pembuatan program pendidikan mereka. Hal yang perlu diperhatikan adalah perkembangan intelektual, perkembangan indera yang masih ada dan keterbatasan orientasi dan mobilitas.

1 Perkembangan Intelektual
Telah lama para psikolog berusaha untuk menentukan tingkat kecerdasan tunanetra melalui berbagai macam test intelegensi yang disesuaikan dengan kondisi tunanetra. Haye Binet mengadakan test intelegensi dengan menghilangkan nomor-nomor yang hanya bisa dilakukan melalui mata. Ia menguji 2312 orang buta dan menghasilkan atau menunjukan bahwa intelegensi orang buta rata-rata 98,8 sedangkan orang normal, dan ditemukan beberapa perbedaan. Perbedaan itu menunjukkan bahwa orang buta akan mempertahankan pengalamannya tetapi sayang mereka kurang dapat mengintegrasikan dengan pengalaman yang lain. Jadi mendapat hasil yang hampir sama dengan orang normal, tetapi dalam hal pengertian dan kesamaan orang buta kurang baik. Dalam berbahasa terutama dalam menggunakan kosa kata tunanetra kurang dapat menggunakkannya.

Kephart dan Schwartz dalam studinya, menunjukkan bahwa tunanetra mempunyai kemampuan berkomunikasi secara lisan dan mereka mampu berprestasi seperti orang normal. Dari beberapa pernyataan diatas dapatlah dimengerti bahwa perkembangan intelegensi tunanetra akan tergantung pada pengalaman-pengalaman hidup yang mereka alami.

2 Perkembangan Indera Yang Ada
Mata merupakan indera yang dapat menghubungkan kita dengan dunia disekitar kita. Kita dapat mengetahui apa saja yang berada disekitar kita, dapat menirukan tingkah laku seseorang yang kita anggap baik. Dengan mata kita dapat menerima informasi apa saja dan dengan mata pula kita melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas. Bagaimana dengan tunanetra, apakah dengan tidak berfungsinya indera penglihatan, maka mereka juga tidak dapat menerima informasi, menjalankan dan menirukan?. Memang dalam hal meniru mereka akan banyak mengalami kesulitan karena indera lain kurang dapat membantu.

Sedangkan untuk kegiatan lain masih dapat dibantu dengan indera lain yang masih mereka miliki. Melalui indera peraba, pendengaran, penciuman dan pengecap tunanetra dapat mengadakan sosialisasi dan dapat pula melakukan tugas-tugasnya dengan baik bahkan sebaik orang awas. Melalui latihan-latihan secara rutin dan teratur, secara terarah, maka sisa indera yang masih mereka miliki dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan. Konsentrasi ini terbentuk karena matanya tidak dapat melihat, maka seluruh perhatiannya terpusat pada apa yang dikerjakan, atau apa yang sedang dipelajarinya karena perhatiannya tidak terpecah kemana-mana. Hal inilah yang sangat mendukung kepekaan indera yang masih mereka miliki.

3 Keterbatasan Fungsi Kognitif
Proses perkembangan pribadi, pengalaman lingkungan hanya tergantung dari fungsi kognitif. Fungsi kognitif meliputi indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan,pengecapan dan indera kinestetik serta sentuhan pada kulit. Sedangkan penglihatan adalah alat penyatu dan memadukan serta menyusun sebuah konsep. Karena itu seseorang yang kehilangan penglihatannya akan tegantung pada indera lain yang masih berfungsi dalam mengembangkan pengertian tentang lingkungan. Tentunya proses mengenal lingkungan ini akan berbeda caranya dengan orang awas. Tunanetra akan mengandalkan perabaan dan pendengaran dalam mengenal lingkungan dan tentunya akan ditunjang dengan indera lainnya.

4 Keterbatasan Dalam Orientasi Dan Mobilitas
Hilangnya penglihatan akan mengakibatkan kemampuan bergeraknya menjadi berkurang. Hal ini mengakibatkan terhambatnya perkembangan pengalamannya mengenal lingkungan, terutama lingkungan baru. Orientasi merupakan suatu proses penggunaan indera-indera untuk menentukan posisi diri terhadap lingkungan. Akibatnya ia akan pergi kemanapun yang dikehendaki dengan tepat, cepat dan aman. Semua itu dapat dilakukan dengan bantuan penglihatan tetapi bagi tunanetra akan tergantung pada indera yang masih dimiliki yaitu indera pendengaran, perabaan, penciuman, selain itu tunanetra harus memiliki konsep tentang waktu (pagi, siang, malam), suhu (panas, dingin, hangat), jarak (jauh, dekat).

5 Perkembangan Sosialisasi
Pengamatan visual memang memiliki daya pengamatan jarak jauh yang lingkungan, memungkinkan adanya penguasaan lingkungan, penguasaan diri, atau hubungan keduanya. Karena itu dengan hilangnya penglihatan dapat mengakibatkan sosialisasi dengan lingkungan sangat jauh. Hal ini terjadi karena ia tidak dapat menyelaraskan tindakkannya pada situasi lingkungan saat itu. Dalam kehidupan sosial banyak kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari dari meniru, sedang bagi tunanetra hal ini merupakan hambatan besar. Untuk itu tunanetra memang masih memerlukan orang awas sebagai pendamping agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Selama manusia itu hidup, maka masalah tidaklah dapat dihindari, demikian juga dengan tunanetra. Dengan hilangnya penglihatan akan menimbulkan masalah terhadap lingkungannya terutama masalah sosial. Keterbatasan dan mobilitas pengalaman yang kurang akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain, rendah diri dan kurang percaya diri. Semua itu dapat diatasi dengan memberikan latihan-latihan untuk mengatasi masalah-masalahnya.
Untuk menunjang perkembangan diri tunanetra diperlukan faktor-faktor pendukung antara lain sarana prasarana yang memadai, serta kebutuhan dasar itu adalah bergerak dan berorientasi di lingkungan tempat tinggalnya, dan dilingkungan masyarakat secara umum. Tanpa kemampuan, seorang tunanetra akan mengalami kesulitan dalam hal mencapai apa yang diharapkan baik dalam menempuh pendidikan maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Sudah kita ketahui bahwa kebutuhan bergerak dan berorientasi bagi manusia sudah dimulai sejak bayi lahir, makin meningkat usia si anak maka makin bertambah pula kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya.
Dengan hilangnya indera penglihatan maka seorang tunanetra harus menggunakan indera lainnya yang masih berfungsi, diantaranya pendengaran, penciuman, pengecap dan karakteristik dalam upaya membantu dirinya dalam berorientasi dengan lingkungan dimana ia berada.
Untuk membantu menunjang segala aktifitasnya sehari-hari seorang tunanetra perlu sekali menguasai orientasi dan mobilitas (O&M). Adapun yang dimaksud orientasi adalah proses pemanfaatan indera-indera yang masih berfungsi untuk menentukan posisi diri dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Mobilitas adalah kemampuan bergerak dari satu tempat ketempat lain.Untuk tujuan mengembangkan diri seorang tunanetra adalah orang yang penglihatannya mengalami kerusakan sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan tidak dapat dididik dengan metode-metode yang bersifat visual

3. TUJUAN PROGRAM DAN OUTPUT

Adapun tujuan dari proposal program ini adalah :

a. Memohon kerjasama dari instansi pemerintah maupun LSM baik dalam negeri maupun luar negeri yang bersedia menyumbangkan dananya untuk kepentingan program kami
b. Dana tersebut nantinya akan kami gunakan untuk menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi untuk tunanetra.
c. Setelah mengikuti training awal kami berupaya agar mereka diberikan pembekalan yang lebih lanjut serta modal usaha agar dapat berkreasi secara mandiri (buka usaha pijat refleksi) bagi tunanetra.

Sedangkan untuk output yang di hasilkan adalah sebagai berikut :
- Tuna netra mampu membuka usaha pijat refleksi
- Terbentuknya ikatan tuna netra kreatif
- Terjadinya regenerasi skill.

4. RENCANA SUSUNAN TIM KERJA

Dua orang Penasihat (Pembina) yang bertugas memberikan pertimbangan dan masukan-masukan selama proses program pemberdayaan penyandang cacat tuna netra yang kami mohon kesediaannya dari pihak yang berkompeten dengan masalah pendidikan untuk tunanetra yaitu :

1. Sukardi ( Peneliti).
2. Zuanda. ( aktivis social masyarakat)

Tim kerja yang berikutnya adalah tim pelaksana program yang bertugas menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi. Susunan tim pelaksana terdiri dari 4 (empat) orang. Terbagi dalam beberapa bagian yakni :

Satu orang Konseptor (Penggagas Ide)
bertugas membuat strategi dan langkah-langkah dalam menyusun materi pelatihan pijat refleksi.

Satu orang bidang acara.
bertugas menuangkan kedalam proses pelatiahan pijat refleksi berdasarkan masukan ide dari konseptor dalam bentuk tekhnik pelaksanaan.

Satu orang bidang perlengkapan, bertugas mengumpulkan segala perlengkapan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan tunanetra dalam proses pelatihan pijat refleksi terkait dengan program ini.

Satu orang bidang Administrasi dan dokumentasi bertugas mengelola administrasi selama pelatihan berlangsung dan mengumpulkan segala bentuk dokumentasi.

Adapun tim pelaksana susunannya adalah sebagai berikut :

1. Konseptor (Penggagas Ide) : Dedy Susanto.
2. Bidang Acara : Rohaya, S.Hi
3. Bidang Perlengkapan : Laila Wahyuni, S.Sos.i
4. Bidang Administrasi dan Dokumentasi : Neli Murnila Zakaria, S.Hi


5. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN PROGRAM
Mengenai jadwal yang tepat untuk bergulirnya program ini kami sepakat akan dimulai pada pertengahan tahun 2010 yaitu antara bulan April - Mei dengan pertimbangan untuk persiapan segala sesuatu yang berhubungan dengan program tersebut.

Untuk masalah tempat akan diusulkan kemudian.

6. LANGKAH-LANGKAH KERJA
a. Konseptor menjelaskan ide kepada orang-orang yang dinilai pantas untuk dilibatkan dalam membuat program yang kedepannya diharapkan dapat dimanfaatkan secara khusus terhadap para tunanetra
b. Konseptor segera membentuk tim yang akan melaksanakan program dengan merekrut orang-orang yang mau bekerjasama setelah sebelumnya diberikan penjelasan.
c. Konseptor dengan tim pelaksana yang sudah terbentuk melobi dua orang yang sangat berkompeten dalam masalah ketunanetraan untuk dijadikan tim penasihat (pembina) dan nantinya akan dimasukan kedalam tim kerja.
d. Meminta saran tentang pembuatan proposal pengajuan dana kepada tim penasihat
e. Mengajukan proposal untuk bantuan dana dari Instansi pemerintah atau LSM (dalam dan luar negeri)
f. Mempresentasikan rencana kerja program dihadapan pengurus LSM yang diharapkan menjadi target sumber dana pembiayaan selama program berjalan oleh konseptor dan dibantu dengan seluruh tim kerja yang akan melaksanakan dan mendukung program.
g. Setelah disetujui oleh Lembaga pemberi bantuan dan dana diterima dan langsung diserahkan ke bendehara lembaga dan akan dikeluarkan untuk :
• Sewa tempat acara
• Perlengkapan
• Akomodasi dan konsumsi
• Dokumentasi dan publikasi
• Pembelian peralatan pijat Refleksi
• Honorium tim kerja dan pelaksana
• Pembelian fasilitas untuk keadministrasian dan ATK.
• pembelian satu unit laptop dan kamera digital
• Transportasi dan Honorium Instruktur
h. Setiap tiga hari sekali bendahara lembaga membukukan dan melaporkan ke tim kerja dalam rapat evaluasi mengenai saldo yang tersisa dan pengeluaran seluruh kegiatan.
i. Pada saat acara berlangsung bidang Administrasi dan Dokumentasi mengumpulkan data dan mendokumentasikan seluruh kegiatan dengan digital camera dan handycam yang tersedia
j. Setiap tiga hari sekali bidang perlengkapan menyampaikan kondisi perlengkapan yang ada dan melaporkannya dalam rapat evaluasi terhadap kebutuhan-kebutuhan mengenai pelatihan pijat refleksi bagi tunanetra kepada tim kerja sehingga pengadaan perlengkapan didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dilapangan.
k. Bidang Acara menerjemahkan dan merevisi setiap tekhnik yang di gunakan sesuai dengan keinginan konseptor berdasarkan masukan-masukan dari tim kerja lainnya terutama dari pihak penasihat (pembina) didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan yang ada dilapangan.
l. Konseptor bertanggung jawab penuh selama proses kegiatan pelatihan pijat refleksi yang dilakukan dan selalu mengevaluasi dengan meminta saran dan masukan dari tim penasihat untuk perbaikan mutu alat atau media dan kinerja tim kerja kedepan lalu kemudian melaporkannya kepada lembaga pemberi bantuan dana dan instansi terkait setiap bulannya selama program berjalan.


7. RINCIAN DANA YANG DIPERLUKAN

Rencana Anggaran Biaya Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra.
Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra
"Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Aku Berkarya"

No DESKRIPSI KEGIATAN Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah Harga (Rp) Jadwal Kegiatan
hari unit frekuensi tempat Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
1 2 3 4 5 6 7 8 S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M
A ATK
1 cetak dan foto copi modul 15 1 10000 150,000 x x x x x
2 buku tulis 15 1 5000 75,000 x x x
3 Bolpoint 30 1 2000 60,000 x x x
4 Kertas HVS 1 1 40000 40,000 x x x
5 Amplop 1 1 25000 25,000 x x x
6 Buku referensi 15 1 99900 1,498,500 x x x x x x x
Total A 1,848,500
B Tempat & Perlengkapan
1 Sewa Aula 5 1 1 1 3000000 15,000,000 x x x
2 Sewa penginapan peserta 5 8 1 1 250000 10,000,000 x x x
3 Laptop 1 1 8000000 8,000,000 x x x
4 Digital Camera 1 1 2000000 2,000,000 x x x
5 sewa penginapan pemateri 5 2 1 1 700000 7,000,000 x x x
6 Peralatan pijat refleksi 15 1 500000 7,500,000 x x x
7 Spanduk 5 1 1 300000 1,500,000 x x x
Total B 51,000,000
C Tranportasi
1 Pemateri 2 1 3000000 6,000,000 x x x
2 Peserta 15 1 50000 750,000 x x x
3 panitia 4 1 75000 300,000 x x x
Total C 7,050,000
D Honorarium
1 Pemateri 5 2 1 1 1000000 10,000,000 x x x x x x x x x
2 Peserta 5 15 1 1 20000 1,500,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
3 panitia 5 4 1 1 100000 2,000,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
Total D 13,500,000
E Konsumsi
1 sarapan pagi 5 21 1 1 15000 1,575,000 x x x
2 Cofee break 5 21 2 1 10000 2,100,000 x x x
3 Makan siang 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
4 Makan malam 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
Total E 8,925,000

Total Anggaran 82,323,500



8. PENUTUP

Demikianlah proposal ini kami buat sebagai suatu acuan dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan tema ”Dengan Jari Aku Melihat Dunia, dengan Jari Aku Berkarya” semoga juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak yang bersedia membantu kami dan pihak instansi terkait untuk memberikan bantuan dana serta bimbingan teknis dalam pelaksanaan Program ini nantinya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat dan rahmatnya bagi kita semua, sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.



Banda Aceh, 22 Februari 2010


Menyetujui,
Islami Education




Dedy Susanto
Direktur

Tidak ada komentar: