Terorisme bukanlah barang baru di Indonesia tapi, untuk Aceh ini adalah baru pertama kalinya. berita yang di sampaikan oleh beberapa media masa masih sifatnya Pra Duga Tak Bersalah karena, belum jelas bukti-bukti yang menunjukkan mereka adalah jaringan teroris. Isu yang di lemparkan ke paublik saya pikir ini hanya akan membuat masyarakat menjadi ketakutan sebab, kalau ada teroris yang tergambar oleh masyarakat adalah aksi pengeboman yang cukup brutal. Kasus tersebut masih lah sebatas kejahatan atau kriminalitas.
Selanjutnya mengenai warga sipil yang tertembak satu orang meninggal dunia dan satu lagi terluka ini harus ada pihak yang bertanggung jawab dan dalam hal ini adalah pihak kepolisian. seharausnya polisi jangan gegabah dalam mengambil tindakan. setahu saya dalam peraturan kepolisian bahwa aparat polisi boleh menambak apabila :1. untuk membela diri, 2. tersangka melakukan perlawanan, dan 3. membasmi seperatis atau pemberontak. dalam hal kasus yang baru-baru ini terjadi warga sipil di tembak dan bahkan berulang-ulang kali pada tanggal 22 Februari 2010 di Jantho Kab. Aceh Besar hanya karena di duga tersangka teroris. sungguh sangat naif kirany tindakan kepolisian tersebut sampai menhilangkan nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Dalam hal ini kepolisian tidak cukup hanya dengan meminta maaf tapi, harus melalui prosedur hukum bain secara intern kepolisian maupun eksternal.
kejadia salah temabak atrau perbuatan semena-mena pihak keamanan bukan lah yang pertama kali terjadi sebut saja barubaru ini seorang warga sipil di Lhokseumawe menjadi korban pemukulan secara babi buta oleh aparat keamanan hanya karena permasalahan kecil yaitu terserempet kendaraan sepeda motor dan akibatnya koraban harus mengalami luka berat di bagian kepala dan muka.
sikapa arogan aparat sangat kita sayangkan, kepolisian dan TNI harus menginstropeksi diri dalam menambil sebuah tindakan. saya mengaharap ini adalah korbnan terakhir dari kesewenanagan aparat keamanan.
Rabu, 24 Februari 2010
Selasa, 23 Februari 2010
PROGRAM PEMBERDAYAAN PENYANDANG CACAT TUNA NETRA
ABSTRAKSI
“Setiap kategori kebutuhan berkaitan dengan lima aspek intelektual, aspek intelektual mengacu kepada kemampuan untuk berpikir cerdas dan rasional, atau yang berkaitan dengan kekuatan mengetahui (power of knowing). Aspek ini berhubungan dengan kemampuan mengembangkan, memahami, dan menguasai pengetahuan dan keterampilan. Salah satu pertanyaan penting yang sampai kini belum terjawab mengenai aspek ini adalah bagaimana orang belajar dan bagaimana orang dapat menggunakan kemampuannya pada tingkatannya yang maksimum” (Omvig, 1993:18)
1. LATAR BELAKANG
Dunia kesehatan dari hari ke hari semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan, tidak terkecuali dengan pengembangan pengobatan tradisional yang baik di lakukan oleh manusia seperti pijat refleksi. Pijat refleksi merupakan salah satu pengobatan tardisional yang langsung bekerja pada otot-otot yang lelah, dan juga dapat melancarkan peredaran darah. Didalam dunia kesehatan, pijat refleksi merupakan suatu keahlian khusus yang dimiliki oleh orang-orang terdidik dan terlatih.
Setiap individu mempunyai potensi masing-masing, asalkan potensi tersebut dapat terus dilatih dan dikembangkan, tidak terkecuali mereka para penyandang cacat, mereka juga mampu mengapresiasikan potensi yang terdapat pada dirinya, hanya saja diperlukan sebuah arahan dan bimbingan yang bisa dikemas dalam bentuk pelatihan skill, atau program-progaram pendidikan lain, sehingga diupayakan benar-benar menguasi suatu keahlian. Namun pada pelaksanaan dilapangan sering ditemukan hambatan-hambatan dalam prosesnya. Diantara hambatan tersebut adalah masalah dana, sumber daya manusia dan data.
Mengingat permasalahan tersebut diatas, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Islamic Education yang bergerak pada bidang pendidikan dan sosial masyarakat, mencoba untuk memberdayakan para penyandang cacat seperti tuna netra dengan memberikan berbagai training dan pelatihan skill diantaranya pelatihan pijat refleksi yang kemuadian dikemas dalam Progaram Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan Tema “Dengan jari aku melihat dunia, dengan jari aku berkarya”. Kegiatan ini menghadirkan instruktur lokal dan nasional.
2. CIRI-CIRI KHUSUS TUNANETRA
Menurut Anastasia Widjantin dan Imanuel Hitipeuw (1979:19) karakter atau ciri-ciri khusus tunanetra, diantaranya:
a. Rasa Rendah Diri
Rasa rendah diri timbul pada tunanetra dikarenakan kecacatannya, pengalaman-pengalaman tunanetra yang serba terbatas. Seperti dalam bergerak, atau berkomunikasi dengan orang awas mengakibatkan mereka selalu dihantui sikap pesimis, tidak percaya diri. Adapun perlindungan yang berlebihan dari orang awas dapat pula menimbulkan rasa rendah diri pada tunanetra, karena mereka merasa tidak mendapat kepercayaan.
b. Curiga Terhadap Orang Lain
Akibat keterbatasan rangsangan visual atau kurang mampu berorientasi dengan lingkungannya sehingga kemampuan mobilitasnya terganggu. Tunanetra tidak bisa langsung mengetahui bahaya atau rintangan-rintangan yang ada didepannya. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa tidak mudah baginya melakukan kegiatan yang diinginkan, sering terjadi kepala terbentur, tabrakan dengan orang lain atau terperosok. Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan ini dapat menimbulkan rasa sakit atau kecewa pada diri tunanetra, dia mulai mencurigai dunia seisinya, serta beranggapan bahwa orang lain yang bisa melihat merupakan musuh.
c. Blindsm
Blindsm adalah gerak-gerik tunanetra yang bisa dilakukan banyak tunanetra seperti menggerakan badan kedepan dan kebelakang, ataupun kekanan kekiri, bertepuk-tepuk, menggeleng-gelengkan kepala, menggerak-gerakan tangan didepan mata, dan banyak lainnya.
Gerak-gerik tersebut merupakan upaya untuk mendapatkan rangsangan dan disebut upaya rangsang. Telah kita akui sebagai akibat ketunanetraan maka terjadilah kehampaan rangsangan. Dengan gerak-gerik yang dilakukan para tunanetra mendapatkan rangsangan tertentu melalui indra yang masih mereka miliki. Dengan adanya rangsangan non visual ini para tunanetra mendapatkan bahan-bahan baru untuk dijadikan perbendaharaan pengalamannya.
d. Keterbatasan Konsep
Keterbatasan konsep pada tunanetra terjadi sebagai akibat tidak tahu atau kurang berfungsinya indera penglihatan. Kita ketahui bahwa proses pembentukan pendapat, konsep, dan sebagainya adalah proses yang cukup lama dan didapat melalui indera penglihatan. Oleh karena itu proses pembentukan konsep dan pendapat pada tunanetra relatif lebih sukar jika dibanding dengan orang awas. Maka dengan demikian jika tunanetra sampai pada taraf kesimpulan mereka akan mempertahankan dengan gigih kesimpulan dari konsep yang telah mereka miliki, tanpa menghiraukan bukti-bukti bahwa yang dipertahankan itu tepat atau tidak benar.
Setelah mengetahui karakteristik tunanetra, masih ada hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut berkaitan dengan pembuatan-pembuatan program pendidikan mereka. Hal yang perlu diperhatikan adalah perkembangan intelektual, perkembangan indera yang masih ada dan keterbatasan orientasi dan mobilitas.
1 Perkembangan Intelektual
Telah lama para psikolog berusaha untuk menentukan tingkat kecerdasan tunanetra melalui berbagai macam test intelegensi yang disesuaikan dengan kondisi tunanetra. Haye Binet mengadakan test intelegensi dengan menghilangkan nomor-nomor yang hanya bisa dilakukan melalui mata. Ia menguji 2312 orang buta dan menghasilkan atau menunjukan bahwa intelegensi orang buta rata-rata 98,8 sedangkan orang normal, dan ditemukan beberapa perbedaan. Perbedaan itu menunjukkan bahwa orang buta akan mempertahankan pengalamannya tetapi sayang mereka kurang dapat mengintegrasikan dengan pengalaman yang lain. Jadi mendapat hasil yang hampir sama dengan orang normal, tetapi dalam hal pengertian dan kesamaan orang buta kurang baik. Dalam berbahasa terutama dalam menggunakan kosa kata tunanetra kurang dapat menggunakkannya.
Kephart dan Schwartz dalam studinya, menunjukkan bahwa tunanetra mempunyai kemampuan berkomunikasi secara lisan dan mereka mampu berprestasi seperti orang normal. Dari beberapa pernyataan diatas dapatlah dimengerti bahwa perkembangan intelegensi tunanetra akan tergantung pada pengalaman-pengalaman hidup yang mereka alami.
2 Perkembangan Indera Yang Ada
Mata merupakan indera yang dapat menghubungkan kita dengan dunia disekitar kita. Kita dapat mengetahui apa saja yang berada disekitar kita, dapat menirukan tingkah laku seseorang yang kita anggap baik. Dengan mata kita dapat menerima informasi apa saja dan dengan mata pula kita melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas. Bagaimana dengan tunanetra, apakah dengan tidak berfungsinya indera penglihatan, maka mereka juga tidak dapat menerima informasi, menjalankan dan menirukan?. Memang dalam hal meniru mereka akan banyak mengalami kesulitan karena indera lain kurang dapat membantu.
Sedangkan untuk kegiatan lain masih dapat dibantu dengan indera lain yang masih mereka miliki. Melalui indera peraba, pendengaran, penciuman dan pengecap tunanetra dapat mengadakan sosialisasi dan dapat pula melakukan tugas-tugasnya dengan baik bahkan sebaik orang awas. Melalui latihan-latihan secara rutin dan teratur, secara terarah, maka sisa indera yang masih mereka miliki dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan. Konsentrasi ini terbentuk karena matanya tidak dapat melihat, maka seluruh perhatiannya terpusat pada apa yang dikerjakan, atau apa yang sedang dipelajarinya karena perhatiannya tidak terpecah kemana-mana. Hal inilah yang sangat mendukung kepekaan indera yang masih mereka miliki.
3 Keterbatasan Fungsi Kognitif
Proses perkembangan pribadi, pengalaman lingkungan hanya tergantung dari fungsi kognitif. Fungsi kognitif meliputi indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan,pengecapan dan indera kinestetik serta sentuhan pada kulit. Sedangkan penglihatan adalah alat penyatu dan memadukan serta menyusun sebuah konsep. Karena itu seseorang yang kehilangan penglihatannya akan tegantung pada indera lain yang masih berfungsi dalam mengembangkan pengertian tentang lingkungan. Tentunya proses mengenal lingkungan ini akan berbeda caranya dengan orang awas. Tunanetra akan mengandalkan perabaan dan pendengaran dalam mengenal lingkungan dan tentunya akan ditunjang dengan indera lainnya.
4 Keterbatasan Dalam Orientasi Dan Mobilitas
Hilangnya penglihatan akan mengakibatkan kemampuan bergeraknya menjadi berkurang. Hal ini mengakibatkan terhambatnya perkembangan pengalamannya mengenal lingkungan, terutama lingkungan baru. Orientasi merupakan suatu proses penggunaan indera-indera untuk menentukan posisi diri terhadap lingkungan. Akibatnya ia akan pergi kemanapun yang dikehendaki dengan tepat, cepat dan aman. Semua itu dapat dilakukan dengan bantuan penglihatan tetapi bagi tunanetra akan tergantung pada indera yang masih dimiliki yaitu indera pendengaran, perabaan, penciuman, selain itu tunanetra harus memiliki konsep tentang waktu (pagi, siang, malam), suhu (panas, dingin, hangat), jarak (jauh, dekat).
5 Perkembangan Sosialisasi
Pengamatan visual memang memiliki daya pengamatan jarak jauh yang lingkungan, memungkinkan adanya penguasaan lingkungan, penguasaan diri, atau hubungan keduanya. Karena itu dengan hilangnya penglihatan dapat mengakibatkan sosialisasi dengan lingkungan sangat jauh. Hal ini terjadi karena ia tidak dapat menyelaraskan tindakkannya pada situasi lingkungan saat itu. Dalam kehidupan sosial banyak kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari dari meniru, sedang bagi tunanetra hal ini merupakan hambatan besar. Untuk itu tunanetra memang masih memerlukan orang awas sebagai pendamping agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Selama manusia itu hidup, maka masalah tidaklah dapat dihindari, demikian juga dengan tunanetra. Dengan hilangnya penglihatan akan menimbulkan masalah terhadap lingkungannya terutama masalah sosial. Keterbatasan dan mobilitas pengalaman yang kurang akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain, rendah diri dan kurang percaya diri. Semua itu dapat diatasi dengan memberikan latihan-latihan untuk mengatasi masalah-masalahnya.
Untuk menunjang perkembangan diri tunanetra diperlukan faktor-faktor pendukung antara lain sarana prasarana yang memadai, serta kebutuhan dasar itu adalah bergerak dan berorientasi di lingkungan tempat tinggalnya, dan dilingkungan masyarakat secara umum. Tanpa kemampuan, seorang tunanetra akan mengalami kesulitan dalam hal mencapai apa yang diharapkan baik dalam menempuh pendidikan maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Sudah kita ketahui bahwa kebutuhan bergerak dan berorientasi bagi manusia sudah dimulai sejak bayi lahir, makin meningkat usia si anak maka makin bertambah pula kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya.
Dengan hilangnya indera penglihatan maka seorang tunanetra harus menggunakan indera lainnya yang masih berfungsi, diantaranya pendengaran, penciuman, pengecap dan karakteristik dalam upaya membantu dirinya dalam berorientasi dengan lingkungan dimana ia berada.
Untuk membantu menunjang segala aktifitasnya sehari-hari seorang tunanetra perlu sekali menguasai orientasi dan mobilitas (O&M). Adapun yang dimaksud orientasi adalah proses pemanfaatan indera-indera yang masih berfungsi untuk menentukan posisi diri dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Mobilitas adalah kemampuan bergerak dari satu tempat ketempat lain.Untuk tujuan mengembangkan diri seorang tunanetra adalah orang yang penglihatannya mengalami kerusakan sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan tidak dapat dididik dengan metode-metode yang bersifat visual
3. TUJUAN PROGRAM DAN OUTPUT
Adapun tujuan dari proposal program ini adalah :
a. Memohon kerjasama dari instansi pemerintah maupun LSM baik dalam negeri maupun luar negeri yang bersedia menyumbangkan dananya untuk kepentingan program kami
b. Dana tersebut nantinya akan kami gunakan untuk menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi untuk tunanetra.
c. Setelah mengikuti training awal kami berupaya agar mereka diberikan pembekalan yang lebih lanjut serta modal usaha agar dapat berkreasi secara mandiri (buka usaha pijat refleksi) bagi tunanetra.
Sedangkan untuk output yang di hasilkan adalah sebagai berikut :
- Tuna netra mampu membuka usaha pijat refleksi
- Terbentuknya ikatan tuna netra kreatif
- Terjadinya regenerasi skill.
4. RENCANA SUSUNAN TIM KERJA
Dua orang Penasihat (Pembina) yang bertugas memberikan pertimbangan dan masukan-masukan selama proses program pemberdayaan penyandang cacat tuna netra yang kami mohon kesediaannya dari pihak yang berkompeten dengan masalah pendidikan untuk tunanetra yaitu :
1. Sukardi ( Peneliti).
2. Zuanda. ( aktivis social masyarakat)
Tim kerja yang berikutnya adalah tim pelaksana program yang bertugas menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi. Susunan tim pelaksana terdiri dari 4 (empat) orang. Terbagi dalam beberapa bagian yakni :
Satu orang Konseptor (Penggagas Ide)
bertugas membuat strategi dan langkah-langkah dalam menyusun materi pelatihan pijat refleksi.
Satu orang bidang acara.
bertugas menuangkan kedalam proses pelatiahan pijat refleksi berdasarkan masukan ide dari konseptor dalam bentuk tekhnik pelaksanaan.
Satu orang bidang perlengkapan, bertugas mengumpulkan segala perlengkapan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan tunanetra dalam proses pelatihan pijat refleksi terkait dengan program ini.
Satu orang bidang Administrasi dan dokumentasi bertugas mengelola administrasi selama pelatihan berlangsung dan mengumpulkan segala bentuk dokumentasi.
Adapun tim pelaksana susunannya adalah sebagai berikut :
1. Konseptor (Penggagas Ide) : Dedy Susanto.
2. Bidang Acara : Rohaya, S.Hi
3. Bidang Perlengkapan : Laila Wahyuni, S.Sos.i
4. Bidang Administrasi dan Dokumentasi : Neli Murnila Zakaria, S.Hi
5. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN PROGRAM
Mengenai jadwal yang tepat untuk bergulirnya program ini kami sepakat akan dimulai pada pertengahan tahun 2010 yaitu antara bulan April - Mei dengan pertimbangan untuk persiapan segala sesuatu yang berhubungan dengan program tersebut.
Untuk masalah tempat akan diusulkan kemudian.
6. LANGKAH-LANGKAH KERJA
a. Konseptor menjelaskan ide kepada orang-orang yang dinilai pantas untuk dilibatkan dalam membuat program yang kedepannya diharapkan dapat dimanfaatkan secara khusus terhadap para tunanetra
b. Konseptor segera membentuk tim yang akan melaksanakan program dengan merekrut orang-orang yang mau bekerjasama setelah sebelumnya diberikan penjelasan.
c. Konseptor dengan tim pelaksana yang sudah terbentuk melobi dua orang yang sangat berkompeten dalam masalah ketunanetraan untuk dijadikan tim penasihat (pembina) dan nantinya akan dimasukan kedalam tim kerja.
d. Meminta saran tentang pembuatan proposal pengajuan dana kepada tim penasihat
e. Mengajukan proposal untuk bantuan dana dari Instansi pemerintah atau LSM (dalam dan luar negeri)
f. Mempresentasikan rencana kerja program dihadapan pengurus LSM yang diharapkan menjadi target sumber dana pembiayaan selama program berjalan oleh konseptor dan dibantu dengan seluruh tim kerja yang akan melaksanakan dan mendukung program.
g. Setelah disetujui oleh Lembaga pemberi bantuan dan dana diterima dan langsung diserahkan ke bendehara lembaga dan akan dikeluarkan untuk :
• Sewa tempat acara
• Perlengkapan
• Akomodasi dan konsumsi
• Dokumentasi dan publikasi
• Pembelian peralatan pijat Refleksi
• Honorium tim kerja dan pelaksana
• Pembelian fasilitas untuk keadministrasian dan ATK.
• pembelian satu unit laptop dan kamera digital
• Transportasi dan Honorium Instruktur
h. Setiap tiga hari sekali bendahara lembaga membukukan dan melaporkan ke tim kerja dalam rapat evaluasi mengenai saldo yang tersisa dan pengeluaran seluruh kegiatan.
i. Pada saat acara berlangsung bidang Administrasi dan Dokumentasi mengumpulkan data dan mendokumentasikan seluruh kegiatan dengan digital camera dan handycam yang tersedia
j. Setiap tiga hari sekali bidang perlengkapan menyampaikan kondisi perlengkapan yang ada dan melaporkannya dalam rapat evaluasi terhadap kebutuhan-kebutuhan mengenai pelatihan pijat refleksi bagi tunanetra kepada tim kerja sehingga pengadaan perlengkapan didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dilapangan.
k. Bidang Acara menerjemahkan dan merevisi setiap tekhnik yang di gunakan sesuai dengan keinginan konseptor berdasarkan masukan-masukan dari tim kerja lainnya terutama dari pihak penasihat (pembina) didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan yang ada dilapangan.
l. Konseptor bertanggung jawab penuh selama proses kegiatan pelatihan pijat refleksi yang dilakukan dan selalu mengevaluasi dengan meminta saran dan masukan dari tim penasihat untuk perbaikan mutu alat atau media dan kinerja tim kerja kedepan lalu kemudian melaporkannya kepada lembaga pemberi bantuan dana dan instansi terkait setiap bulannya selama program berjalan.
7. RINCIAN DANA YANG DIPERLUKAN
Rencana Anggaran Biaya Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra.
Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra
"Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Aku Berkarya"
No DESKRIPSI KEGIATAN Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah Harga (Rp) Jadwal Kegiatan
hari unit frekuensi tempat Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
1 2 3 4 5 6 7 8 S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M
A ATK
1 cetak dan foto copi modul 15 1 10000 150,000 x x x x x
2 buku tulis 15 1 5000 75,000 x x x
3 Bolpoint 30 1 2000 60,000 x x x
4 Kertas HVS 1 1 40000 40,000 x x x
5 Amplop 1 1 25000 25,000 x x x
6 Buku referensi 15 1 99900 1,498,500 x x x x x x x
Total A 1,848,500
B Tempat & Perlengkapan
1 Sewa Aula 5 1 1 1 3000000 15,000,000 x x x
2 Sewa penginapan peserta 5 8 1 1 250000 10,000,000 x x x
3 Laptop 1 1 8000000 8,000,000 x x x
4 Digital Camera 1 1 2000000 2,000,000 x x x
5 sewa penginapan pemateri 5 2 1 1 700000 7,000,000 x x x
6 Peralatan pijat refleksi 15 1 500000 7,500,000 x x x
7 Spanduk 5 1 1 300000 1,500,000 x x x
Total B 51,000,000
C Tranportasi
1 Pemateri 2 1 3000000 6,000,000 x x x
2 Peserta 15 1 50000 750,000 x x x
3 panitia 4 1 75000 300,000 x x x
Total C 7,050,000
D Honorarium
1 Pemateri 5 2 1 1 1000000 10,000,000 x x x x x x x x x
2 Peserta 5 15 1 1 20000 1,500,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
3 panitia 5 4 1 1 100000 2,000,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
Total D 13,500,000
E Konsumsi
1 sarapan pagi 5 21 1 1 15000 1,575,000 x x x
2 Cofee break 5 21 2 1 10000 2,100,000 x x x
3 Makan siang 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
4 Makan malam 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
Total E 8,925,000
Total Anggaran 82,323,500
8. PENUTUP
Demikianlah proposal ini kami buat sebagai suatu acuan dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan tema ”Dengan Jari Aku Melihat Dunia, dengan Jari Aku Berkarya” semoga juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak yang bersedia membantu kami dan pihak instansi terkait untuk memberikan bantuan dana serta bimbingan teknis dalam pelaksanaan Program ini nantinya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat dan rahmatnya bagi kita semua, sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Banda Aceh, 22 Februari 2010
Menyetujui,
Islami Education
Dedy Susanto
Direktur
“Setiap kategori kebutuhan berkaitan dengan lima aspek intelektual, aspek intelektual mengacu kepada kemampuan untuk berpikir cerdas dan rasional, atau yang berkaitan dengan kekuatan mengetahui (power of knowing). Aspek ini berhubungan dengan kemampuan mengembangkan, memahami, dan menguasai pengetahuan dan keterampilan. Salah satu pertanyaan penting yang sampai kini belum terjawab mengenai aspek ini adalah bagaimana orang belajar dan bagaimana orang dapat menggunakan kemampuannya pada tingkatannya yang maksimum” (Omvig, 1993:18)
1. LATAR BELAKANG
Dunia kesehatan dari hari ke hari semakin menunjukkan perkembangan yang signifikan, tidak terkecuali dengan pengembangan pengobatan tradisional yang baik di lakukan oleh manusia seperti pijat refleksi. Pijat refleksi merupakan salah satu pengobatan tardisional yang langsung bekerja pada otot-otot yang lelah, dan juga dapat melancarkan peredaran darah. Didalam dunia kesehatan, pijat refleksi merupakan suatu keahlian khusus yang dimiliki oleh orang-orang terdidik dan terlatih.
Setiap individu mempunyai potensi masing-masing, asalkan potensi tersebut dapat terus dilatih dan dikembangkan, tidak terkecuali mereka para penyandang cacat, mereka juga mampu mengapresiasikan potensi yang terdapat pada dirinya, hanya saja diperlukan sebuah arahan dan bimbingan yang bisa dikemas dalam bentuk pelatihan skill, atau program-progaram pendidikan lain, sehingga diupayakan benar-benar menguasi suatu keahlian. Namun pada pelaksanaan dilapangan sering ditemukan hambatan-hambatan dalam prosesnya. Diantara hambatan tersebut adalah masalah dana, sumber daya manusia dan data.
Mengingat permasalahan tersebut diatas, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Islamic Education yang bergerak pada bidang pendidikan dan sosial masyarakat, mencoba untuk memberdayakan para penyandang cacat seperti tuna netra dengan memberikan berbagai training dan pelatihan skill diantaranya pelatihan pijat refleksi yang kemuadian dikemas dalam Progaram Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan Tema “Dengan jari aku melihat dunia, dengan jari aku berkarya”. Kegiatan ini menghadirkan instruktur lokal dan nasional.
2. CIRI-CIRI KHUSUS TUNANETRA
Menurut Anastasia Widjantin dan Imanuel Hitipeuw (1979:19) karakter atau ciri-ciri khusus tunanetra, diantaranya:
a. Rasa Rendah Diri
Rasa rendah diri timbul pada tunanetra dikarenakan kecacatannya, pengalaman-pengalaman tunanetra yang serba terbatas. Seperti dalam bergerak, atau berkomunikasi dengan orang awas mengakibatkan mereka selalu dihantui sikap pesimis, tidak percaya diri. Adapun perlindungan yang berlebihan dari orang awas dapat pula menimbulkan rasa rendah diri pada tunanetra, karena mereka merasa tidak mendapat kepercayaan.
b. Curiga Terhadap Orang Lain
Akibat keterbatasan rangsangan visual atau kurang mampu berorientasi dengan lingkungannya sehingga kemampuan mobilitasnya terganggu. Tunanetra tidak bisa langsung mengetahui bahaya atau rintangan-rintangan yang ada didepannya. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa tidak mudah baginya melakukan kegiatan yang diinginkan, sering terjadi kepala terbentur, tabrakan dengan orang lain atau terperosok. Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan ini dapat menimbulkan rasa sakit atau kecewa pada diri tunanetra, dia mulai mencurigai dunia seisinya, serta beranggapan bahwa orang lain yang bisa melihat merupakan musuh.
c. Blindsm
Blindsm adalah gerak-gerik tunanetra yang bisa dilakukan banyak tunanetra seperti menggerakan badan kedepan dan kebelakang, ataupun kekanan kekiri, bertepuk-tepuk, menggeleng-gelengkan kepala, menggerak-gerakan tangan didepan mata, dan banyak lainnya.
Gerak-gerik tersebut merupakan upaya untuk mendapatkan rangsangan dan disebut upaya rangsang. Telah kita akui sebagai akibat ketunanetraan maka terjadilah kehampaan rangsangan. Dengan gerak-gerik yang dilakukan para tunanetra mendapatkan rangsangan tertentu melalui indra yang masih mereka miliki. Dengan adanya rangsangan non visual ini para tunanetra mendapatkan bahan-bahan baru untuk dijadikan perbendaharaan pengalamannya.
d. Keterbatasan Konsep
Keterbatasan konsep pada tunanetra terjadi sebagai akibat tidak tahu atau kurang berfungsinya indera penglihatan. Kita ketahui bahwa proses pembentukan pendapat, konsep, dan sebagainya adalah proses yang cukup lama dan didapat melalui indera penglihatan. Oleh karena itu proses pembentukan konsep dan pendapat pada tunanetra relatif lebih sukar jika dibanding dengan orang awas. Maka dengan demikian jika tunanetra sampai pada taraf kesimpulan mereka akan mempertahankan dengan gigih kesimpulan dari konsep yang telah mereka miliki, tanpa menghiraukan bukti-bukti bahwa yang dipertahankan itu tepat atau tidak benar.
Setelah mengetahui karakteristik tunanetra, masih ada hal yang perlu diperhatikan. Hal tersebut berkaitan dengan pembuatan-pembuatan program pendidikan mereka. Hal yang perlu diperhatikan adalah perkembangan intelektual, perkembangan indera yang masih ada dan keterbatasan orientasi dan mobilitas.
1 Perkembangan Intelektual
Telah lama para psikolog berusaha untuk menentukan tingkat kecerdasan tunanetra melalui berbagai macam test intelegensi yang disesuaikan dengan kondisi tunanetra. Haye Binet mengadakan test intelegensi dengan menghilangkan nomor-nomor yang hanya bisa dilakukan melalui mata. Ia menguji 2312 orang buta dan menghasilkan atau menunjukan bahwa intelegensi orang buta rata-rata 98,8 sedangkan orang normal, dan ditemukan beberapa perbedaan. Perbedaan itu menunjukkan bahwa orang buta akan mempertahankan pengalamannya tetapi sayang mereka kurang dapat mengintegrasikan dengan pengalaman yang lain. Jadi mendapat hasil yang hampir sama dengan orang normal, tetapi dalam hal pengertian dan kesamaan orang buta kurang baik. Dalam berbahasa terutama dalam menggunakan kosa kata tunanetra kurang dapat menggunakkannya.
Kephart dan Schwartz dalam studinya, menunjukkan bahwa tunanetra mempunyai kemampuan berkomunikasi secara lisan dan mereka mampu berprestasi seperti orang normal. Dari beberapa pernyataan diatas dapatlah dimengerti bahwa perkembangan intelegensi tunanetra akan tergantung pada pengalaman-pengalaman hidup yang mereka alami.
2 Perkembangan Indera Yang Ada
Mata merupakan indera yang dapat menghubungkan kita dengan dunia disekitar kita. Kita dapat mengetahui apa saja yang berada disekitar kita, dapat menirukan tingkah laku seseorang yang kita anggap baik. Dengan mata kita dapat menerima informasi apa saja dan dengan mata pula kita melakukan dan menyelesaikan tugas-tugas. Bagaimana dengan tunanetra, apakah dengan tidak berfungsinya indera penglihatan, maka mereka juga tidak dapat menerima informasi, menjalankan dan menirukan?. Memang dalam hal meniru mereka akan banyak mengalami kesulitan karena indera lain kurang dapat membantu.
Sedangkan untuk kegiatan lain masih dapat dibantu dengan indera lain yang masih mereka miliki. Melalui indera peraba, pendengaran, penciuman dan pengecap tunanetra dapat mengadakan sosialisasi dan dapat pula melakukan tugas-tugasnya dengan baik bahkan sebaik orang awas. Melalui latihan-latihan secara rutin dan teratur, secara terarah, maka sisa indera yang masih mereka miliki dapat berkonsentrasi pada apa yang sedang dikerjakan. Konsentrasi ini terbentuk karena matanya tidak dapat melihat, maka seluruh perhatiannya terpusat pada apa yang dikerjakan, atau apa yang sedang dipelajarinya karena perhatiannya tidak terpecah kemana-mana. Hal inilah yang sangat mendukung kepekaan indera yang masih mereka miliki.
3 Keterbatasan Fungsi Kognitif
Proses perkembangan pribadi, pengalaman lingkungan hanya tergantung dari fungsi kognitif. Fungsi kognitif meliputi indera pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan,pengecapan dan indera kinestetik serta sentuhan pada kulit. Sedangkan penglihatan adalah alat penyatu dan memadukan serta menyusun sebuah konsep. Karena itu seseorang yang kehilangan penglihatannya akan tegantung pada indera lain yang masih berfungsi dalam mengembangkan pengertian tentang lingkungan. Tentunya proses mengenal lingkungan ini akan berbeda caranya dengan orang awas. Tunanetra akan mengandalkan perabaan dan pendengaran dalam mengenal lingkungan dan tentunya akan ditunjang dengan indera lainnya.
4 Keterbatasan Dalam Orientasi Dan Mobilitas
Hilangnya penglihatan akan mengakibatkan kemampuan bergeraknya menjadi berkurang. Hal ini mengakibatkan terhambatnya perkembangan pengalamannya mengenal lingkungan, terutama lingkungan baru. Orientasi merupakan suatu proses penggunaan indera-indera untuk menentukan posisi diri terhadap lingkungan. Akibatnya ia akan pergi kemanapun yang dikehendaki dengan tepat, cepat dan aman. Semua itu dapat dilakukan dengan bantuan penglihatan tetapi bagi tunanetra akan tergantung pada indera yang masih dimiliki yaitu indera pendengaran, perabaan, penciuman, selain itu tunanetra harus memiliki konsep tentang waktu (pagi, siang, malam), suhu (panas, dingin, hangat), jarak (jauh, dekat).
5 Perkembangan Sosialisasi
Pengamatan visual memang memiliki daya pengamatan jarak jauh yang lingkungan, memungkinkan adanya penguasaan lingkungan, penguasaan diri, atau hubungan keduanya. Karena itu dengan hilangnya penglihatan dapat mengakibatkan sosialisasi dengan lingkungan sangat jauh. Hal ini terjadi karena ia tidak dapat menyelaraskan tindakkannya pada situasi lingkungan saat itu. Dalam kehidupan sosial banyak kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang dipelajari dari meniru, sedang bagi tunanetra hal ini merupakan hambatan besar. Untuk itu tunanetra memang masih memerlukan orang awas sebagai pendamping agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Selama manusia itu hidup, maka masalah tidaklah dapat dihindari, demikian juga dengan tunanetra. Dengan hilangnya penglihatan akan menimbulkan masalah terhadap lingkungannya terutama masalah sosial. Keterbatasan dan mobilitas pengalaman yang kurang akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain, rendah diri dan kurang percaya diri. Semua itu dapat diatasi dengan memberikan latihan-latihan untuk mengatasi masalah-masalahnya.
Untuk menunjang perkembangan diri tunanetra diperlukan faktor-faktor pendukung antara lain sarana prasarana yang memadai, serta kebutuhan dasar itu adalah bergerak dan berorientasi di lingkungan tempat tinggalnya, dan dilingkungan masyarakat secara umum. Tanpa kemampuan, seorang tunanetra akan mengalami kesulitan dalam hal mencapai apa yang diharapkan baik dalam menempuh pendidikan maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Sudah kita ketahui bahwa kebutuhan bergerak dan berorientasi bagi manusia sudah dimulai sejak bayi lahir, makin meningkat usia si anak maka makin bertambah pula kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya.
Dengan hilangnya indera penglihatan maka seorang tunanetra harus menggunakan indera lainnya yang masih berfungsi, diantaranya pendengaran, penciuman, pengecap dan karakteristik dalam upaya membantu dirinya dalam berorientasi dengan lingkungan dimana ia berada.
Untuk membantu menunjang segala aktifitasnya sehari-hari seorang tunanetra perlu sekali menguasai orientasi dan mobilitas (O&M). Adapun yang dimaksud orientasi adalah proses pemanfaatan indera-indera yang masih berfungsi untuk menentukan posisi diri dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Mobilitas adalah kemampuan bergerak dari satu tempat ketempat lain.Untuk tujuan mengembangkan diri seorang tunanetra adalah orang yang penglihatannya mengalami kerusakan sedemikian rupa sehingga yang bersangkutan tidak dapat dididik dengan metode-metode yang bersifat visual
3. TUJUAN PROGRAM DAN OUTPUT
Adapun tujuan dari proposal program ini adalah :
a. Memohon kerjasama dari instansi pemerintah maupun LSM baik dalam negeri maupun luar negeri yang bersedia menyumbangkan dananya untuk kepentingan program kami
b. Dana tersebut nantinya akan kami gunakan untuk menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi untuk tunanetra.
c. Setelah mengikuti training awal kami berupaya agar mereka diberikan pembekalan yang lebih lanjut serta modal usaha agar dapat berkreasi secara mandiri (buka usaha pijat refleksi) bagi tunanetra.
Sedangkan untuk output yang di hasilkan adalah sebagai berikut :
- Tuna netra mampu membuka usaha pijat refleksi
- Terbentuknya ikatan tuna netra kreatif
- Terjadinya regenerasi skill.
4. RENCANA SUSUNAN TIM KERJA
Dua orang Penasihat (Pembina) yang bertugas memberikan pertimbangan dan masukan-masukan selama proses program pemberdayaan penyandang cacat tuna netra yang kami mohon kesediaannya dari pihak yang berkompeten dengan masalah pendidikan untuk tunanetra yaitu :
1. Sukardi ( Peneliti).
2. Zuanda. ( aktivis social masyarakat)
Tim kerja yang berikutnya adalah tim pelaksana program yang bertugas menyelenggarakan pelatihan pijat refleksi. Susunan tim pelaksana terdiri dari 4 (empat) orang. Terbagi dalam beberapa bagian yakni :
Satu orang Konseptor (Penggagas Ide)
bertugas membuat strategi dan langkah-langkah dalam menyusun materi pelatihan pijat refleksi.
Satu orang bidang acara.
bertugas menuangkan kedalam proses pelatiahan pijat refleksi berdasarkan masukan ide dari konseptor dalam bentuk tekhnik pelaksanaan.
Satu orang bidang perlengkapan, bertugas mengumpulkan segala perlengkapan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan tunanetra dalam proses pelatihan pijat refleksi terkait dengan program ini.
Satu orang bidang Administrasi dan dokumentasi bertugas mengelola administrasi selama pelatihan berlangsung dan mengumpulkan segala bentuk dokumentasi.
Adapun tim pelaksana susunannya adalah sebagai berikut :
1. Konseptor (Penggagas Ide) : Dedy Susanto.
2. Bidang Acara : Rohaya, S.Hi
3. Bidang Perlengkapan : Laila Wahyuni, S.Sos.i
4. Bidang Administrasi dan Dokumentasi : Neli Murnila Zakaria, S.Hi
5. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN PROGRAM
Mengenai jadwal yang tepat untuk bergulirnya program ini kami sepakat akan dimulai pada pertengahan tahun 2010 yaitu antara bulan April - Mei dengan pertimbangan untuk persiapan segala sesuatu yang berhubungan dengan program tersebut.
Untuk masalah tempat akan diusulkan kemudian.
6. LANGKAH-LANGKAH KERJA
a. Konseptor menjelaskan ide kepada orang-orang yang dinilai pantas untuk dilibatkan dalam membuat program yang kedepannya diharapkan dapat dimanfaatkan secara khusus terhadap para tunanetra
b. Konseptor segera membentuk tim yang akan melaksanakan program dengan merekrut orang-orang yang mau bekerjasama setelah sebelumnya diberikan penjelasan.
c. Konseptor dengan tim pelaksana yang sudah terbentuk melobi dua orang yang sangat berkompeten dalam masalah ketunanetraan untuk dijadikan tim penasihat (pembina) dan nantinya akan dimasukan kedalam tim kerja.
d. Meminta saran tentang pembuatan proposal pengajuan dana kepada tim penasihat
e. Mengajukan proposal untuk bantuan dana dari Instansi pemerintah atau LSM (dalam dan luar negeri)
f. Mempresentasikan rencana kerja program dihadapan pengurus LSM yang diharapkan menjadi target sumber dana pembiayaan selama program berjalan oleh konseptor dan dibantu dengan seluruh tim kerja yang akan melaksanakan dan mendukung program.
g. Setelah disetujui oleh Lembaga pemberi bantuan dan dana diterima dan langsung diserahkan ke bendehara lembaga dan akan dikeluarkan untuk :
• Sewa tempat acara
• Perlengkapan
• Akomodasi dan konsumsi
• Dokumentasi dan publikasi
• Pembelian peralatan pijat Refleksi
• Honorium tim kerja dan pelaksana
• Pembelian fasilitas untuk keadministrasian dan ATK.
• pembelian satu unit laptop dan kamera digital
• Transportasi dan Honorium Instruktur
h. Setiap tiga hari sekali bendahara lembaga membukukan dan melaporkan ke tim kerja dalam rapat evaluasi mengenai saldo yang tersisa dan pengeluaran seluruh kegiatan.
i. Pada saat acara berlangsung bidang Administrasi dan Dokumentasi mengumpulkan data dan mendokumentasikan seluruh kegiatan dengan digital camera dan handycam yang tersedia
j. Setiap tiga hari sekali bidang perlengkapan menyampaikan kondisi perlengkapan yang ada dan melaporkannya dalam rapat evaluasi terhadap kebutuhan-kebutuhan mengenai pelatihan pijat refleksi bagi tunanetra kepada tim kerja sehingga pengadaan perlengkapan didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan dilapangan.
k. Bidang Acara menerjemahkan dan merevisi setiap tekhnik yang di gunakan sesuai dengan keinginan konseptor berdasarkan masukan-masukan dari tim kerja lainnya terutama dari pihak penasihat (pembina) didasarkan atas kebutuhan-kebutuhan yang ada dilapangan.
l. Konseptor bertanggung jawab penuh selama proses kegiatan pelatihan pijat refleksi yang dilakukan dan selalu mengevaluasi dengan meminta saran dan masukan dari tim penasihat untuk perbaikan mutu alat atau media dan kinerja tim kerja kedepan lalu kemudian melaporkannya kepada lembaga pemberi bantuan dana dan instansi terkait setiap bulannya selama program berjalan.
7. RINCIAN DANA YANG DIPERLUKAN
Rencana Anggaran Biaya Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra.
Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra
"Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Aku Berkarya"
No DESKRIPSI KEGIATAN Volume Harga Satuan (Rp) Jumlah Harga (Rp) Jadwal Kegiatan
hari unit frekuensi tempat Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
1 2 3 4 5 6 7 8 S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M S S R K J S M
A ATK
1 cetak dan foto copi modul 15 1 10000 150,000 x x x x x
2 buku tulis 15 1 5000 75,000 x x x
3 Bolpoint 30 1 2000 60,000 x x x
4 Kertas HVS 1 1 40000 40,000 x x x
5 Amplop 1 1 25000 25,000 x x x
6 Buku referensi 15 1 99900 1,498,500 x x x x x x x
Total A 1,848,500
B Tempat & Perlengkapan
1 Sewa Aula 5 1 1 1 3000000 15,000,000 x x x
2 Sewa penginapan peserta 5 8 1 1 250000 10,000,000 x x x
3 Laptop 1 1 8000000 8,000,000 x x x
4 Digital Camera 1 1 2000000 2,000,000 x x x
5 sewa penginapan pemateri 5 2 1 1 700000 7,000,000 x x x
6 Peralatan pijat refleksi 15 1 500000 7,500,000 x x x
7 Spanduk 5 1 1 300000 1,500,000 x x x
Total B 51,000,000
C Tranportasi
1 Pemateri 2 1 3000000 6,000,000 x x x
2 Peserta 15 1 50000 750,000 x x x
3 panitia 4 1 75000 300,000 x x x
Total C 7,050,000
D Honorarium
1 Pemateri 5 2 1 1 1000000 10,000,000 x x x x x x x x x
2 Peserta 5 15 1 1 20000 1,500,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
3 panitia 5 4 1 1 100000 2,000,000 x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
Total D 13,500,000
E Konsumsi
1 sarapan pagi 5 21 1 1 15000 1,575,000 x x x
2 Cofee break 5 21 2 1 10000 2,100,000 x x x
3 Makan siang 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
4 Makan malam 5 21 1 1 25000 2,625,000 x x x
Total E 8,925,000
Total Anggaran 82,323,500
8. PENUTUP
Demikianlah proposal ini kami buat sebagai suatu acuan dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Penyandang Cacat Tuna Netra dengan tema ”Dengan Jari Aku Melihat Dunia, dengan Jari Aku Berkarya” semoga juga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak yang bersedia membantu kami dan pihak instansi terkait untuk memberikan bantuan dana serta bimbingan teknis dalam pelaksanaan Program ini nantinya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan berkat dan rahmatnya bagi kita semua, sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terima kasih.
Banda Aceh, 22 Februari 2010
Menyetujui,
Islami Education
Dedy Susanto
Direktur
Senin, 22 Februari 2010
Profil Islamic Education
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Dengan rahmat dan nikmat Allah SWT kepada kita yang masih di beri kesempatan untuk menghirup udara segar demi menegakkan agama Allah SWT di muka bumi ini dan shalawat teriring salam kita ucapkan kepada seorang kekasih Allah SWT yang telah berjuang dengan jiwa dan raganya sampai akkhir hayatnya yaitu Rasulullah SAW.
SEJARAH SINGKAT
Melihat Kondisi Pendidikan Dan Sosial Saat Ini yang Sangat Memprihatinkan Sehingga, Pada Tanggal 7 Oktober 2008 berkumpullah beberapa orang aktivis di Darussalam Banda Aceh untuk sama-sama memikirkan solusi apa yang bisa di perbuat untuk mengobati kondisi yang carut marut ini. Dan akhirnya terfikirlah untuk membuat diskusi lintas generasi yang sempat melaksanakan kegiatan diskusi beberapa kali. Akan tetapi, kami berfikir kembali forum ini belum ada wadahnya sehingga, terbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Islamic Education (IE) yang bergerak di bidang Pendidikan dan Sosial pada tanggal 31 Maret 2009
Visi dan Misi
Visi
Mencetak generasi yang kuat, tangguh, dan berilmu pengetahuan dalam mengahdapi perubahan zaman.
Misi
mengadakan berbagai pelatihan di bidang pendidikan dan sosial masyarakat.
Membangun jaringan dengan membentuk berbagai komunitas pemuda
Mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bernilai positif.
LAMBANG
Pena = alat perantara untuk belajar
Huruf I = Islamic (islam), bernafaskan Islam
Huruf ‘e’ = education (pendidikan)
Ie = Islamic Education dan dalam bahasa Aceh artinya air. Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup.
Gambar Buku = Sumber ilmu pengetaghuan
Gambar persegi 8 = lambang keIslaman
Warna Hijau = perdamaian, kenyamanan dan kesejahteraan.
Warna putih = suci atau bersih
Warna hitam = hal-hal yang masih perlu di perbaiki.
SIFAT
LEMBAGA INI BERGERAK PADA BIDANG PENDIDIKAN DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN.
LANDASAN
AL-QUR’AN
HADITS
UU SISDIKNAS NO. 20 TAHUN 2003
UU NO. 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH
QANUN NO 5 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ACEH
PENDIRI & PENGURUS
Pendiri
Laila Wahyuni, S.Sos.i
Pengurus
Direktur : Dedy Susanto, S.Pdi
Sekretaris : Neli Murnila Zakaria, S.Hi
Bendahara : Rohaya, S.Hi
KEGIATAN
Training
Pendampingan
Outbound
Karya wisata
Penyuluhan
Penelitian
Penulisan karya ilmiah (buku)
SLOGAN
LONG LIVE EDUCATION
(pendidikan seumur hidup)
Siapa saja berhak untuk menuntut ilmu anak kecil, orang muda, dewasa, orang tua, orang cacat, maupun orang yang memiliki keterbelakangan mental dan Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu agar mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat.
TERIMA KASIH
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
TERUSLAH MENUNTUT ILMU DAN MARI KITA BANGUN BANGSA INI DENGAN TANGAN KITA SENDIRI.
Di sampaikan oleh Islamic education
Sekretariat : Jln. Utama simpang mesjid rukoh, rukoh kec. Syiah Kuala Kota Banda Aceh
Email : education_islamic@yahoo.com
Mobile : 0852 6098 9283 / 0852 6002 4006
Dengan rahmat dan nikmat Allah SWT kepada kita yang masih di beri kesempatan untuk menghirup udara segar demi menegakkan agama Allah SWT di muka bumi ini dan shalawat teriring salam kita ucapkan kepada seorang kekasih Allah SWT yang telah berjuang dengan jiwa dan raganya sampai akkhir hayatnya yaitu Rasulullah SAW.
SEJARAH SINGKAT
Melihat Kondisi Pendidikan Dan Sosial Saat Ini yang Sangat Memprihatinkan Sehingga, Pada Tanggal 7 Oktober 2008 berkumpullah beberapa orang aktivis di Darussalam Banda Aceh untuk sama-sama memikirkan solusi apa yang bisa di perbuat untuk mengobati kondisi yang carut marut ini. Dan akhirnya terfikirlah untuk membuat diskusi lintas generasi yang sempat melaksanakan kegiatan diskusi beberapa kali. Akan tetapi, kami berfikir kembali forum ini belum ada wadahnya sehingga, terbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Islamic Education (IE) yang bergerak di bidang Pendidikan dan Sosial pada tanggal 31 Maret 2009
Visi dan Misi
Visi
Mencetak generasi yang kuat, tangguh, dan berilmu pengetahuan dalam mengahdapi perubahan zaman.
Misi
mengadakan berbagai pelatihan di bidang pendidikan dan sosial masyarakat.
Membangun jaringan dengan membentuk berbagai komunitas pemuda
Mengadakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bernilai positif.
LAMBANG
Pena = alat perantara untuk belajar
Huruf I = Islamic (islam), bernafaskan Islam
Huruf ‘e’ = education (pendidikan)
Ie = Islamic Education dan dalam bahasa Aceh artinya air. Air adalah sumber kehidupan makhluk hidup.
Gambar Buku = Sumber ilmu pengetaghuan
Gambar persegi 8 = lambang keIslaman
Warna Hijau = perdamaian, kenyamanan dan kesejahteraan.
Warna putih = suci atau bersih
Warna hitam = hal-hal yang masih perlu di perbaiki.
SIFAT
LEMBAGA INI BERGERAK PADA BIDANG PENDIDIKAN DAN SOSIAL KEMASYARAKATAN.
LANDASAN
AL-QUR’AN
HADITS
UU SISDIKNAS NO. 20 TAHUN 2003
UU NO. 11 TAHUN 2006 TENTANG PEMERINTAHAN ACEH
QANUN NO 5 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ACEH
PENDIRI & PENGURUS
Pendiri
Laila Wahyuni, S.Sos.i
Pengurus
Direktur : Dedy Susanto, S.Pdi
Sekretaris : Neli Murnila Zakaria, S.Hi
Bendahara : Rohaya, S.Hi
KEGIATAN
Training
Pendampingan
Outbound
Karya wisata
Penyuluhan
Penelitian
Penulisan karya ilmiah (buku)
SLOGAN
LONG LIVE EDUCATION
(pendidikan seumur hidup)
Siapa saja berhak untuk menuntut ilmu anak kecil, orang muda, dewasa, orang tua, orang cacat, maupun orang yang memiliki keterbelakangan mental dan Islam mewajibkan penganutnya untuk menuntut ilmu agar mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirat.
TERIMA KASIH
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
TERUSLAH MENUNTUT ILMU DAN MARI KITA BANGUN BANGSA INI DENGAN TANGAN KITA SENDIRI.
Di sampaikan oleh Islamic education
Sekretariat : Jln. Utama simpang mesjid rukoh, rukoh kec. Syiah Kuala Kota Banda Aceh
Email : education_islamic@yahoo.com
Mobile : 0852 6098 9283 / 0852 6002 4006
“PERGERAKAN MAHASISWA, DI MANA RIWAYAT MU KINI”
Dedy Ahmad
Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat!!! Mahasiswa bersatu tak bisa di kalahkan!!! Mahasiswa… rakyat… bersatu tak bisa di kalahkan!!!
Inilah yel-yel yang sering di sauarakan oleh mahasiswa dengan penuh semangat dan lantang. Namun, suara ini sekarang tidak lagi terdengar begitu lantang. Sebuah kajian yang sangat menarik mengingat pada kenyataanya gerakan mahasiswa Indonesia khususnya di Aceh memang semakin terdegradasi oleh zaman. Setelah bangkit pada historical block mereka tahun 1998, sekarang gerakan mahasiswa Indonesia dan khususnya di Aceh seakan “mati suri”.
Kondisi gerakan mahasiswa Indonesia saat ini sangat relevan dengan istilah Joel Rocamora (tokoh gerakan Filipina), yakni seperti amoeba yang hanya dapat dilihat dari mikroskop. Padahal gerakan mahasiswa adalah komponen pemecah kebuntuan dan kekacauan kehidupan bangsa yang telah terbukti menjadi pendobrak dan pembaharu peradaban di Indonesia.
Khususnya mahasiswa Aceh adalah harapan bagi bangsa dan rakyat Aceh (jantung hati rakyat aceh) tetapi, saat kondisi yang sangat memprihatinkan di mana rakyat masih banyak menderita dari segala segi mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan sampai masalah keamanan dan kenyamanan, mahasiswa “entah kemana”. Dalam hal ini saya menghimbau mahasiswa untuk tetap menjaga idealisme. ”Mahasiswa jangan mau dibeli kekuasaan. Lebih baik jadi miskin, daripada harus menggadaikan idealisme.
Selama ini penyakit mahasiswa setelah melakukan pergerakan adalah masuk dalam lingkaran kekuasaan. Dengan masuk kekuasaan, mahasiswa lalu menjadi bagian dan otomatis tunduk pada kekuasaan. Walaupun kekuasaan tersebut cenderung korup. Kita mengakui, mahasiswa mempunyai peran besar dalam menegakkan Indonesia dan khususnya Aceh dan tidak pernah absen dalam setiap perubahan yang terjadi. Mulai dari sumpah pemuda hingga kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. “Ini fakta, bahkan dalam batas tertentu mahasiswa menjadi faktor penentu,”. Dari itu, mahasiswa saat ini harus melakukan koreksi diri. Setiap mahasiswa, harus memiliki landasan pemikiran dalam melakukan pergerakan. Jadi bergerak sambil baca buku. Kemudian menghimbau agar mahasiswa tetap kritis, mengontrol terhadap kebijakan pemerintah, dan jangan mudah percaya terhadap politisi busuk. Kebanyakan politisi saat ini hanya menjual kesengsaraan rakyat, bukan mengatasinya. ”Ketika terjadi aksi ribuan masa mendukung IRNA baru-baru ini, rakyat di mobilisasi untuk kepentingan pribadi”. ”Tapi, saat masyarakat korban Tsunami mengadukan nasibnya, tak terlihat pemerintah sibuk turut membantu mencarikan sosulsi yang terbaik. Rakyat hanya di jadikan sebagai ”alat pemuas” bagi Politisi Busuk.
Pada saat yang sama, saat ini merupakan momentum yang pas bagi mahasiswa untuk bangkit kembali. Perpolitikan Aceh saat ini cenderung satu warna dengan pemerintah Aceh. Tidak ada yang menjadi oposisi. Pemerintahan Aceh yang memiliki satu warna akan mengarah kepada otoriter. ”Otomatis, kritik dari dalam sistem akan macet”. ”Mahasiswa bisa memainkan peran tersebut dalam mengevaluasi tiga tahun pemerintahan Aceh. Tentu gerakan mahasiswa sebatas moral force, karena tujuannya juga moral”. Akan tetapi, gerakan mahasiswa saat ini tidak memiliki landasan gerakan yang sama. Jadi mudah terjadi polarisasi antargerakan. Mahasiswa juga, sedang mengalami krisis nilai dan identitas. ”Banyak mahasiswa yang berafiliasi kepada partai politik nasional maupun lokal”, hasil survei membuktikan banyak mahasiswa yang masuk secara langsung maupun tidak langsung sebagai pengurus partai tertentu. Untuk itu, kita mengharapkan mahasiswa harus melakukan evaluasi tentang gerakan mahasiswa. Tanpa itu, mahasiswa akan menjadi bagian dari penjahat kecil yang tinggal menunggu waktu untuk berubah menjadi penjahat besar.
Gerakan Boedi Utomo 1908, Gerakan Pemuda 1928, Angkatan ’66, Malari 1974, Referendum Aceh 1998, dan yang paling fenomenal tahun ’98, adalah serangkaian kontribusi moral dan pemikiran mahasiswa dalam konstelasi kehidupan bernegara. ”Mereka rela meninggalkan bangku kuliah, menempatkan diri sebagai oposisi terhadap birokrat kampus dan pemerintahan saat itu.” Saya menambahkan, ”Soetan Sjahrir, Arief Rahman Hakim, Soe Hok Gie, Muhammad Nazar dan yang lainnya, adalah segelintir tokoh pemuda dan mahasiswa yang mampu membuktikan kepekaan dan kepedulian mereka terhadap kondisi kehidupan bangsa ini. Mereka ke kampus tidak untuk menjadikan sertifikat lulus sebagai orientasi studi. Tidak menjadikan gelar sarjana, doktor, ataupun profesor sebagai tujuan utama pendidikan tinggi mereka. Bahkan mereka lebih memfokuskan bagaimana agar rakyat terbebas dari belenggu feodalisme dan kolonialisme. Bagaimana agar rakyat dapat menikmati apa yang seharusnya mereka dapatkan dari bumi nusantara mereka dan tidak mengalami penindasan”. Sejarah juga mencatat bahwa kelahiran dan pembentukan bangsa ini melibatkan peran besar pemuda dan mahasiswa. Bagaimana pada zaman pergerakan nasional, organisasi Boedi Utomo menjadi pelopor gerakan mahasiswa dan khususnya Aceh, Organisasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menjadi motor penggerak terjadinya gerakan masal rakyat Aceh (Referendum). Lalu kemudian dilanjutkan dengan lahirnya berbagai macam organisasi pemuda dan mahasiswa lainnya baik nasional maupun lokal.
Pada era-era setelah kemerdekaan pun gerakan mahasiswa masih tetap eksis mengawal jalannya pemerintahan. Tahun 1948 lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mulai berhimpitan kepentingan dengan PKI. Disusul lahirnya berbagai organisasi mahasiswa lain seperti GMNI, PMKRI, CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia, salah satu basis PKI) yang masing-masing mulai menampakkan eksistensi dan kepentingan masing-masing.
Pada akhir-akhir era pemerintahan Soekarno, semua elemen gerakan mahasiswa bahkan bersatu dalam sebuah organisasi baru bernama KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). KAMI jugalah yang menjadi motor penggerak gerakan ’66 yang meneriakkan tiga tuntutan yang sangat terkenal, yakni Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Salah satu isinya adalah pembubaran PKI dan aksi ini mendapat dukungan dari militer. Hal ini disebabkan saat itu dalam internal militer terpecah menjadi dua kubu, yakni pro Soekarno dimana Soekarno semakin lengket dengan PKI dengan militer yang anti komunis sehingga mendukung aksi mahasiswa dan pemuda angkatan 1966.
Tahun-tahun berikutnya di awal pemerintahan Soeharto, mahasiswa kembali menunjukkan keprihatinan mereka atas kondisi perekonomian bangsa. Penanaman Modal Asing (PMA) sangat berlebihan sehingga investor asing sangat mendominasi perekonomian bangsa. Puncaknya adalah dengan peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (Malari), ketika Hariman Siregar sebagai ketua Dewan Mahasiswa UI memimpin aksi pengepungan di Bandara Halim Perdana Kusuma. Peristiwa itu sebagai bentuk penyambutan kedatangan PM Jepang Tanaka Kakukei yang berkunjung pada 14-17 Januari ke Indonesia. Terlepas dari dimanfaatkannya aksi mahasiswa saat itu untuk membuat kekacauan (Pasar Senen hangus terbakar dan dijarah), aksi saat itu terbilang fenomenal karena beberapa kurun waktu setelah itu IGGI yang menjadi penyebab menumpuknya modal asing di Indonesia pun dibubarkan meskipun diganti dengan CGI.
”Tahun-tahun berikutnya pemerintahan Soeharto semakin menekan pergerakan mahasiswa dengan membubarkan dan menyatakan KAMI sebagai organisasi terlarang. Mahasiswa juga dikekang dalam kampus dengan pemberlakuan NKK/BKK yang melarang demo mahasiswa dan melarang adanya perkumpulan lebih dari lima orang. Tetapi kondisi rakyat yang terpuruk di bawah tirani militeristik memaksa mahasiswa turun ke jalan lagi. Puncaknya adalah tahun 1998 ketika puluhan ribu mahasiswa dan rakyat menduduki gedung MPR dan memaksa Soeharto mundur dari jabatannya. Dalam waktu yang sama di Aceh juga sedang terjadi aksi Referendum yang penggeraknya adalah mahasiswa. Sejarah mencatat peristiwa fenomenal ini sebagai titik balik pergerakan mahasiswa yang telah stagnan dan ini juga menandai babak baru perubahan kehidupan bernegara dalam era reformasi yang kini telah dilalui lebih dari satu dekade”
.
Realitas Gerakan Mahasiswa Aceh Saat ini
Setelah melalui serangkaian perjalanan yang sangat membanggakan, saat ini sepertinya gerakan mahasiswa kembali memasuki masa stagnansi. ”Secara psikologis hal ini bisa disebabkan karena mahasiswa melihat “mungkin” tidak ada hal yang perlu dipersoalkan saat ini”. ”Tapi kalau ditelaah lebih dalam, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Bahkan sangat jelas kekacauan dan kemungkinan akan kembalinya rezim otoriter baru dalam pemerintahan Aceh khususnya”. Selanjutnya saat ini ”soft authoritarianism” dengan sangat baik telah dilancarkan oleh pemerintah Aceh dengan atau tanpa disadari oleh mereka yang saat ini mengaku sebagai pemuda dan mahasiswa. Ada beberapa penyebab pergerakan mahasiswa sekarang telah ”Mati Suri” yaitu :
Pertama, Disorientasi. Dalam era reformasi dimana kebebasan telah diraih, mahasiswa menjadi bingung hal apalagi yang patut mereka perjuangkan. Infrastruktur pemerintahan dalam mekanisme kerakyatan telah terbangun (dengan segelintir catatan) sehingga mahasiswa kehilangan orientasi perjuangannya.
Kedua, Jati diri. Sebagian besar mahasiswa saat ini begitu ternyenyak dalam zona nyaman kehidupan mereka. Tak mau lagi mengurusi kesulitan yang dialami bangsa ini. Fokus pada studi, individualisme yang tinggi serta pemahaman akan jati diri mahasiswa yang semakin melemah. Terlebih dengan tuntutan keadaan yang sebenarnya menuntut mereka yang mengaku mahasiswa untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai patriot bangsa.
Ketiga, segmentasi gerakan. Gerakan mahasiswa saat ini juga sangat kehilangan independensinya. Banyak ORMAWA yang kini didanai oleh partai politik tertentu dan menjadi basis pengkaderan sekaligus basis kekuatan demi mencapai kepentingan partai politik yang ada. Terlebih lagi ekslusifitas gerakan seakan membuat mahasiswa saat ini bergerak sendiri-sendiri. ”Upaya penyatuan terlihat kurang signifikan karena dalam setiap aksinya masih saja ada upaya penonjolan almamater masing-masing kampus, emblem-emblem, simbol-simbol internal kampus, serta atribut lainnya. Hal ini berbeda dengan kenyataan dahulu dimana mahasiswa menyatukan semua elemen gerakan mereka dan meninggalkan ekslusifitas dan penonjolan almamater mereka sendiri.
Keempat, Kemajuan Teknologi. Era sekarang sudah mulai dan terus berkembang teknologi yang kian memanjakan manusia. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada generasi muda sekarang. Banyak kasus-kasus kriminal yang terjadi akibat adanya teknologi dan globalisasi ini walaupun tidak bisa kita mungkiri banyak manfaatnya juga. Seperti halnya Facebook, Twitter, dan lain-lain, bisa di manfaatkan untuk penyebaran isu, diskusi, pengangkatan opini publik,. Tapi, tidak bisa disamakan dengan zaman dahulu, baru cuma ada telegraph, dll, itu yang membedakan alur gerakan perjuangan sekarang.”
Kelima, Perubahan Sistem. Pada era sekarang, sistem perkuliahan dibatasi menjadi hanya 6 tahun. Hal ini berpengaruh besar terhadap ”spirit” Gerakan mahasiswa sekarang. Padahal dulu tidak ada yang namanya sistem SKS, semua sama. Kita mau kuliah berapa tahun, itu terserah. Oleh karena itu, terbuka lebar kesempatan kita untuk mengawal Pemerintahan pada saat itu. Tidak seperti sekarang, mahasiswa dituntut hanya untuk belajar, masalah negara dan bangsa, itu tidak soal, yang penting Lulus dan dapat kerja. Kontribusi mahasiswa tidak ada, sekarang. Kalau kalian (mahasiswa) tidak bergerak, maka kami yang akan bergerak!”
Penulis: adalah Direktur Eksekutif Aceh Political Institut (API), Direktur Islamic Education, dan Mantan Aktivis Mahasiswa.
Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat!!! Mahasiswa bersatu tak bisa di kalahkan!!! Mahasiswa… rakyat… bersatu tak bisa di kalahkan!!!
Inilah yel-yel yang sering di sauarakan oleh mahasiswa dengan penuh semangat dan lantang. Namun, suara ini sekarang tidak lagi terdengar begitu lantang. Sebuah kajian yang sangat menarik mengingat pada kenyataanya gerakan mahasiswa Indonesia khususnya di Aceh memang semakin terdegradasi oleh zaman. Setelah bangkit pada historical block mereka tahun 1998, sekarang gerakan mahasiswa Indonesia dan khususnya di Aceh seakan “mati suri”.
Kondisi gerakan mahasiswa Indonesia saat ini sangat relevan dengan istilah Joel Rocamora (tokoh gerakan Filipina), yakni seperti amoeba yang hanya dapat dilihat dari mikroskop. Padahal gerakan mahasiswa adalah komponen pemecah kebuntuan dan kekacauan kehidupan bangsa yang telah terbukti menjadi pendobrak dan pembaharu peradaban di Indonesia.
Khususnya mahasiswa Aceh adalah harapan bagi bangsa dan rakyat Aceh (jantung hati rakyat aceh) tetapi, saat kondisi yang sangat memprihatinkan di mana rakyat masih banyak menderita dari segala segi mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan sampai masalah keamanan dan kenyamanan, mahasiswa “entah kemana”. Dalam hal ini saya menghimbau mahasiswa untuk tetap menjaga idealisme. ”Mahasiswa jangan mau dibeli kekuasaan. Lebih baik jadi miskin, daripada harus menggadaikan idealisme.
Selama ini penyakit mahasiswa setelah melakukan pergerakan adalah masuk dalam lingkaran kekuasaan. Dengan masuk kekuasaan, mahasiswa lalu menjadi bagian dan otomatis tunduk pada kekuasaan. Walaupun kekuasaan tersebut cenderung korup. Kita mengakui, mahasiswa mempunyai peran besar dalam menegakkan Indonesia dan khususnya Aceh dan tidak pernah absen dalam setiap perubahan yang terjadi. Mulai dari sumpah pemuda hingga kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. “Ini fakta, bahkan dalam batas tertentu mahasiswa menjadi faktor penentu,”. Dari itu, mahasiswa saat ini harus melakukan koreksi diri. Setiap mahasiswa, harus memiliki landasan pemikiran dalam melakukan pergerakan. Jadi bergerak sambil baca buku. Kemudian menghimbau agar mahasiswa tetap kritis, mengontrol terhadap kebijakan pemerintah, dan jangan mudah percaya terhadap politisi busuk. Kebanyakan politisi saat ini hanya menjual kesengsaraan rakyat, bukan mengatasinya. ”Ketika terjadi aksi ribuan masa mendukung IRNA baru-baru ini, rakyat di mobilisasi untuk kepentingan pribadi”. ”Tapi, saat masyarakat korban Tsunami mengadukan nasibnya, tak terlihat pemerintah sibuk turut membantu mencarikan sosulsi yang terbaik. Rakyat hanya di jadikan sebagai ”alat pemuas” bagi Politisi Busuk.
Pada saat yang sama, saat ini merupakan momentum yang pas bagi mahasiswa untuk bangkit kembali. Perpolitikan Aceh saat ini cenderung satu warna dengan pemerintah Aceh. Tidak ada yang menjadi oposisi. Pemerintahan Aceh yang memiliki satu warna akan mengarah kepada otoriter. ”Otomatis, kritik dari dalam sistem akan macet”. ”Mahasiswa bisa memainkan peran tersebut dalam mengevaluasi tiga tahun pemerintahan Aceh. Tentu gerakan mahasiswa sebatas moral force, karena tujuannya juga moral”. Akan tetapi, gerakan mahasiswa saat ini tidak memiliki landasan gerakan yang sama. Jadi mudah terjadi polarisasi antargerakan. Mahasiswa juga, sedang mengalami krisis nilai dan identitas. ”Banyak mahasiswa yang berafiliasi kepada partai politik nasional maupun lokal”, hasil survei membuktikan banyak mahasiswa yang masuk secara langsung maupun tidak langsung sebagai pengurus partai tertentu. Untuk itu, kita mengharapkan mahasiswa harus melakukan evaluasi tentang gerakan mahasiswa. Tanpa itu, mahasiswa akan menjadi bagian dari penjahat kecil yang tinggal menunggu waktu untuk berubah menjadi penjahat besar.
Gerakan Boedi Utomo 1908, Gerakan Pemuda 1928, Angkatan ’66, Malari 1974, Referendum Aceh 1998, dan yang paling fenomenal tahun ’98, adalah serangkaian kontribusi moral dan pemikiran mahasiswa dalam konstelasi kehidupan bernegara. ”Mereka rela meninggalkan bangku kuliah, menempatkan diri sebagai oposisi terhadap birokrat kampus dan pemerintahan saat itu.” Saya menambahkan, ”Soetan Sjahrir, Arief Rahman Hakim, Soe Hok Gie, Muhammad Nazar dan yang lainnya, adalah segelintir tokoh pemuda dan mahasiswa yang mampu membuktikan kepekaan dan kepedulian mereka terhadap kondisi kehidupan bangsa ini. Mereka ke kampus tidak untuk menjadikan sertifikat lulus sebagai orientasi studi. Tidak menjadikan gelar sarjana, doktor, ataupun profesor sebagai tujuan utama pendidikan tinggi mereka. Bahkan mereka lebih memfokuskan bagaimana agar rakyat terbebas dari belenggu feodalisme dan kolonialisme. Bagaimana agar rakyat dapat menikmati apa yang seharusnya mereka dapatkan dari bumi nusantara mereka dan tidak mengalami penindasan”. Sejarah juga mencatat bahwa kelahiran dan pembentukan bangsa ini melibatkan peran besar pemuda dan mahasiswa. Bagaimana pada zaman pergerakan nasional, organisasi Boedi Utomo menjadi pelopor gerakan mahasiswa dan khususnya Aceh, Organisasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menjadi motor penggerak terjadinya gerakan masal rakyat Aceh (Referendum). Lalu kemudian dilanjutkan dengan lahirnya berbagai macam organisasi pemuda dan mahasiswa lainnya baik nasional maupun lokal.
Pada era-era setelah kemerdekaan pun gerakan mahasiswa masih tetap eksis mengawal jalannya pemerintahan. Tahun 1948 lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mulai berhimpitan kepentingan dengan PKI. Disusul lahirnya berbagai organisasi mahasiswa lain seperti GMNI, PMKRI, CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia, salah satu basis PKI) yang masing-masing mulai menampakkan eksistensi dan kepentingan masing-masing.
Pada akhir-akhir era pemerintahan Soekarno, semua elemen gerakan mahasiswa bahkan bersatu dalam sebuah organisasi baru bernama KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). KAMI jugalah yang menjadi motor penggerak gerakan ’66 yang meneriakkan tiga tuntutan yang sangat terkenal, yakni Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Salah satu isinya adalah pembubaran PKI dan aksi ini mendapat dukungan dari militer. Hal ini disebabkan saat itu dalam internal militer terpecah menjadi dua kubu, yakni pro Soekarno dimana Soekarno semakin lengket dengan PKI dengan militer yang anti komunis sehingga mendukung aksi mahasiswa dan pemuda angkatan 1966.
Tahun-tahun berikutnya di awal pemerintahan Soeharto, mahasiswa kembali menunjukkan keprihatinan mereka atas kondisi perekonomian bangsa. Penanaman Modal Asing (PMA) sangat berlebihan sehingga investor asing sangat mendominasi perekonomian bangsa. Puncaknya adalah dengan peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (Malari), ketika Hariman Siregar sebagai ketua Dewan Mahasiswa UI memimpin aksi pengepungan di Bandara Halim Perdana Kusuma. Peristiwa itu sebagai bentuk penyambutan kedatangan PM Jepang Tanaka Kakukei yang berkunjung pada 14-17 Januari ke Indonesia. Terlepas dari dimanfaatkannya aksi mahasiswa saat itu untuk membuat kekacauan (Pasar Senen hangus terbakar dan dijarah), aksi saat itu terbilang fenomenal karena beberapa kurun waktu setelah itu IGGI yang menjadi penyebab menumpuknya modal asing di Indonesia pun dibubarkan meskipun diganti dengan CGI.
”Tahun-tahun berikutnya pemerintahan Soeharto semakin menekan pergerakan mahasiswa dengan membubarkan dan menyatakan KAMI sebagai organisasi terlarang. Mahasiswa juga dikekang dalam kampus dengan pemberlakuan NKK/BKK yang melarang demo mahasiswa dan melarang adanya perkumpulan lebih dari lima orang. Tetapi kondisi rakyat yang terpuruk di bawah tirani militeristik memaksa mahasiswa turun ke jalan lagi. Puncaknya adalah tahun 1998 ketika puluhan ribu mahasiswa dan rakyat menduduki gedung MPR dan memaksa Soeharto mundur dari jabatannya. Dalam waktu yang sama di Aceh juga sedang terjadi aksi Referendum yang penggeraknya adalah mahasiswa. Sejarah mencatat peristiwa fenomenal ini sebagai titik balik pergerakan mahasiswa yang telah stagnan dan ini juga menandai babak baru perubahan kehidupan bernegara dalam era reformasi yang kini telah dilalui lebih dari satu dekade”
.
Realitas Gerakan Mahasiswa Aceh Saat ini
Setelah melalui serangkaian perjalanan yang sangat membanggakan, saat ini sepertinya gerakan mahasiswa kembali memasuki masa stagnansi. ”Secara psikologis hal ini bisa disebabkan karena mahasiswa melihat “mungkin” tidak ada hal yang perlu dipersoalkan saat ini”. ”Tapi kalau ditelaah lebih dalam, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Bahkan sangat jelas kekacauan dan kemungkinan akan kembalinya rezim otoriter baru dalam pemerintahan Aceh khususnya”. Selanjutnya saat ini ”soft authoritarianism” dengan sangat baik telah dilancarkan oleh pemerintah Aceh dengan atau tanpa disadari oleh mereka yang saat ini mengaku sebagai pemuda dan mahasiswa. Ada beberapa penyebab pergerakan mahasiswa sekarang telah ”Mati Suri” yaitu :
Pertama, Disorientasi. Dalam era reformasi dimana kebebasan telah diraih, mahasiswa menjadi bingung hal apalagi yang patut mereka perjuangkan. Infrastruktur pemerintahan dalam mekanisme kerakyatan telah terbangun (dengan segelintir catatan) sehingga mahasiswa kehilangan orientasi perjuangannya.
Kedua, Jati diri. Sebagian besar mahasiswa saat ini begitu ternyenyak dalam zona nyaman kehidupan mereka. Tak mau lagi mengurusi kesulitan yang dialami bangsa ini. Fokus pada studi, individualisme yang tinggi serta pemahaman akan jati diri mahasiswa yang semakin melemah. Terlebih dengan tuntutan keadaan yang sebenarnya menuntut mereka yang mengaku mahasiswa untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai patriot bangsa.
Ketiga, segmentasi gerakan. Gerakan mahasiswa saat ini juga sangat kehilangan independensinya. Banyak ORMAWA yang kini didanai oleh partai politik tertentu dan menjadi basis pengkaderan sekaligus basis kekuatan demi mencapai kepentingan partai politik yang ada. Terlebih lagi ekslusifitas gerakan seakan membuat mahasiswa saat ini bergerak sendiri-sendiri. ”Upaya penyatuan terlihat kurang signifikan karena dalam setiap aksinya masih saja ada upaya penonjolan almamater masing-masing kampus, emblem-emblem, simbol-simbol internal kampus, serta atribut lainnya. Hal ini berbeda dengan kenyataan dahulu dimana mahasiswa menyatukan semua elemen gerakan mereka dan meninggalkan ekslusifitas dan penonjolan almamater mereka sendiri.
Keempat, Kemajuan Teknologi. Era sekarang sudah mulai dan terus berkembang teknologi yang kian memanjakan manusia. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada generasi muda sekarang. Banyak kasus-kasus kriminal yang terjadi akibat adanya teknologi dan globalisasi ini walaupun tidak bisa kita mungkiri banyak manfaatnya juga. Seperti halnya Facebook, Twitter, dan lain-lain, bisa di manfaatkan untuk penyebaran isu, diskusi, pengangkatan opini publik,. Tapi, tidak bisa disamakan dengan zaman dahulu, baru cuma ada telegraph, dll, itu yang membedakan alur gerakan perjuangan sekarang.”
Kelima, Perubahan Sistem. Pada era sekarang, sistem perkuliahan dibatasi menjadi hanya 6 tahun. Hal ini berpengaruh besar terhadap ”spirit” Gerakan mahasiswa sekarang. Padahal dulu tidak ada yang namanya sistem SKS, semua sama. Kita mau kuliah berapa tahun, itu terserah. Oleh karena itu, terbuka lebar kesempatan kita untuk mengawal Pemerintahan pada saat itu. Tidak seperti sekarang, mahasiswa dituntut hanya untuk belajar, masalah negara dan bangsa, itu tidak soal, yang penting Lulus dan dapat kerja. Kontribusi mahasiswa tidak ada, sekarang. Kalau kalian (mahasiswa) tidak bergerak, maka kami yang akan bergerak!”
Penulis: adalah Direktur Eksekutif Aceh Political Institut (API), Direktur Islamic Education, dan Mantan Aktivis Mahasiswa.
Langganan:
Komentar (Atom)