Dedy Ahmad
Hidup Mahasiswa!!! Hidup Rakyat!!! Mahasiswa bersatu tak bisa di kalahkan!!! Mahasiswa… rakyat… bersatu tak bisa di kalahkan!!!
Inilah yel-yel yang sering di sauarakan oleh mahasiswa dengan penuh semangat dan lantang. Namun, suara ini sekarang tidak lagi terdengar begitu lantang. Sebuah kajian yang sangat menarik mengingat pada kenyataanya gerakan mahasiswa Indonesia khususnya di Aceh memang semakin terdegradasi oleh zaman. Setelah bangkit pada historical block mereka tahun 1998, sekarang gerakan mahasiswa Indonesia dan khususnya di Aceh seakan “mati suri”.
Kondisi gerakan mahasiswa Indonesia saat ini sangat relevan dengan istilah Joel Rocamora (tokoh gerakan Filipina), yakni seperti amoeba yang hanya dapat dilihat dari mikroskop. Padahal gerakan mahasiswa adalah komponen pemecah kebuntuan dan kekacauan kehidupan bangsa yang telah terbukti menjadi pendobrak dan pembaharu peradaban di Indonesia.
Khususnya mahasiswa Aceh adalah harapan bagi bangsa dan rakyat Aceh (jantung hati rakyat aceh) tetapi, saat kondisi yang sangat memprihatinkan di mana rakyat masih banyak menderita dari segala segi mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan sampai masalah keamanan dan kenyamanan, mahasiswa “entah kemana”. Dalam hal ini saya menghimbau mahasiswa untuk tetap menjaga idealisme. ”Mahasiswa jangan mau dibeli kekuasaan. Lebih baik jadi miskin, daripada harus menggadaikan idealisme.
Selama ini penyakit mahasiswa setelah melakukan pergerakan adalah masuk dalam lingkaran kekuasaan. Dengan masuk kekuasaan, mahasiswa lalu menjadi bagian dan otomatis tunduk pada kekuasaan. Walaupun kekuasaan tersebut cenderung korup. Kita mengakui, mahasiswa mempunyai peran besar dalam menegakkan Indonesia dan khususnya Aceh dan tidak pernah absen dalam setiap perubahan yang terjadi. Mulai dari sumpah pemuda hingga kemerdekaan, dan pasca kemerdekaan. “Ini fakta, bahkan dalam batas tertentu mahasiswa menjadi faktor penentu,”. Dari itu, mahasiswa saat ini harus melakukan koreksi diri. Setiap mahasiswa, harus memiliki landasan pemikiran dalam melakukan pergerakan. Jadi bergerak sambil baca buku. Kemudian menghimbau agar mahasiswa tetap kritis, mengontrol terhadap kebijakan pemerintah, dan jangan mudah percaya terhadap politisi busuk. Kebanyakan politisi saat ini hanya menjual kesengsaraan rakyat, bukan mengatasinya. ”Ketika terjadi aksi ribuan masa mendukung IRNA baru-baru ini, rakyat di mobilisasi untuk kepentingan pribadi”. ”Tapi, saat masyarakat korban Tsunami mengadukan nasibnya, tak terlihat pemerintah sibuk turut membantu mencarikan sosulsi yang terbaik. Rakyat hanya di jadikan sebagai ”alat pemuas” bagi Politisi Busuk.
Pada saat yang sama, saat ini merupakan momentum yang pas bagi mahasiswa untuk bangkit kembali. Perpolitikan Aceh saat ini cenderung satu warna dengan pemerintah Aceh. Tidak ada yang menjadi oposisi. Pemerintahan Aceh yang memiliki satu warna akan mengarah kepada otoriter. ”Otomatis, kritik dari dalam sistem akan macet”. ”Mahasiswa bisa memainkan peran tersebut dalam mengevaluasi tiga tahun pemerintahan Aceh. Tentu gerakan mahasiswa sebatas moral force, karena tujuannya juga moral”. Akan tetapi, gerakan mahasiswa saat ini tidak memiliki landasan gerakan yang sama. Jadi mudah terjadi polarisasi antargerakan. Mahasiswa juga, sedang mengalami krisis nilai dan identitas. ”Banyak mahasiswa yang berafiliasi kepada partai politik nasional maupun lokal”, hasil survei membuktikan banyak mahasiswa yang masuk secara langsung maupun tidak langsung sebagai pengurus partai tertentu. Untuk itu, kita mengharapkan mahasiswa harus melakukan evaluasi tentang gerakan mahasiswa. Tanpa itu, mahasiswa akan menjadi bagian dari penjahat kecil yang tinggal menunggu waktu untuk berubah menjadi penjahat besar.
Gerakan Boedi Utomo 1908, Gerakan Pemuda 1928, Angkatan ’66, Malari 1974, Referendum Aceh 1998, dan yang paling fenomenal tahun ’98, adalah serangkaian kontribusi moral dan pemikiran mahasiswa dalam konstelasi kehidupan bernegara. ”Mereka rela meninggalkan bangku kuliah, menempatkan diri sebagai oposisi terhadap birokrat kampus dan pemerintahan saat itu.” Saya menambahkan, ”Soetan Sjahrir, Arief Rahman Hakim, Soe Hok Gie, Muhammad Nazar dan yang lainnya, adalah segelintir tokoh pemuda dan mahasiswa yang mampu membuktikan kepekaan dan kepedulian mereka terhadap kondisi kehidupan bangsa ini. Mereka ke kampus tidak untuk menjadikan sertifikat lulus sebagai orientasi studi. Tidak menjadikan gelar sarjana, doktor, ataupun profesor sebagai tujuan utama pendidikan tinggi mereka. Bahkan mereka lebih memfokuskan bagaimana agar rakyat terbebas dari belenggu feodalisme dan kolonialisme. Bagaimana agar rakyat dapat menikmati apa yang seharusnya mereka dapatkan dari bumi nusantara mereka dan tidak mengalami penindasan”. Sejarah juga mencatat bahwa kelahiran dan pembentukan bangsa ini melibatkan peran besar pemuda dan mahasiswa. Bagaimana pada zaman pergerakan nasional, organisasi Boedi Utomo menjadi pelopor gerakan mahasiswa dan khususnya Aceh, Organisasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) menjadi motor penggerak terjadinya gerakan masal rakyat Aceh (Referendum). Lalu kemudian dilanjutkan dengan lahirnya berbagai macam organisasi pemuda dan mahasiswa lainnya baik nasional maupun lokal.
Pada era-era setelah kemerdekaan pun gerakan mahasiswa masih tetap eksis mengawal jalannya pemerintahan. Tahun 1948 lahir Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang mulai berhimpitan kepentingan dengan PKI. Disusul lahirnya berbagai organisasi mahasiswa lain seperti GMNI, PMKRI, CGMI (Central Gerakan Mahasiswa Indonesia, salah satu basis PKI) yang masing-masing mulai menampakkan eksistensi dan kepentingan masing-masing.
Pada akhir-akhir era pemerintahan Soekarno, semua elemen gerakan mahasiswa bahkan bersatu dalam sebuah organisasi baru bernama KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). KAMI jugalah yang menjadi motor penggerak gerakan ’66 yang meneriakkan tiga tuntutan yang sangat terkenal, yakni Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Salah satu isinya adalah pembubaran PKI dan aksi ini mendapat dukungan dari militer. Hal ini disebabkan saat itu dalam internal militer terpecah menjadi dua kubu, yakni pro Soekarno dimana Soekarno semakin lengket dengan PKI dengan militer yang anti komunis sehingga mendukung aksi mahasiswa dan pemuda angkatan 1966.
Tahun-tahun berikutnya di awal pemerintahan Soeharto, mahasiswa kembali menunjukkan keprihatinan mereka atas kondisi perekonomian bangsa. Penanaman Modal Asing (PMA) sangat berlebihan sehingga investor asing sangat mendominasi perekonomian bangsa. Puncaknya adalah dengan peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974 (Malari), ketika Hariman Siregar sebagai ketua Dewan Mahasiswa UI memimpin aksi pengepungan di Bandara Halim Perdana Kusuma. Peristiwa itu sebagai bentuk penyambutan kedatangan PM Jepang Tanaka Kakukei yang berkunjung pada 14-17 Januari ke Indonesia. Terlepas dari dimanfaatkannya aksi mahasiswa saat itu untuk membuat kekacauan (Pasar Senen hangus terbakar dan dijarah), aksi saat itu terbilang fenomenal karena beberapa kurun waktu setelah itu IGGI yang menjadi penyebab menumpuknya modal asing di Indonesia pun dibubarkan meskipun diganti dengan CGI.
”Tahun-tahun berikutnya pemerintahan Soeharto semakin menekan pergerakan mahasiswa dengan membubarkan dan menyatakan KAMI sebagai organisasi terlarang. Mahasiswa juga dikekang dalam kampus dengan pemberlakuan NKK/BKK yang melarang demo mahasiswa dan melarang adanya perkumpulan lebih dari lima orang. Tetapi kondisi rakyat yang terpuruk di bawah tirani militeristik memaksa mahasiswa turun ke jalan lagi. Puncaknya adalah tahun 1998 ketika puluhan ribu mahasiswa dan rakyat menduduki gedung MPR dan memaksa Soeharto mundur dari jabatannya. Dalam waktu yang sama di Aceh juga sedang terjadi aksi Referendum yang penggeraknya adalah mahasiswa. Sejarah mencatat peristiwa fenomenal ini sebagai titik balik pergerakan mahasiswa yang telah stagnan dan ini juga menandai babak baru perubahan kehidupan bernegara dalam era reformasi yang kini telah dilalui lebih dari satu dekade”
.
Realitas Gerakan Mahasiswa Aceh Saat ini
Setelah melalui serangkaian perjalanan yang sangat membanggakan, saat ini sepertinya gerakan mahasiswa kembali memasuki masa stagnansi. ”Secara psikologis hal ini bisa disebabkan karena mahasiswa melihat “mungkin” tidak ada hal yang perlu dipersoalkan saat ini”. ”Tapi kalau ditelaah lebih dalam, kenyataan di lapangan tidaklah demikian. Bahkan sangat jelas kekacauan dan kemungkinan akan kembalinya rezim otoriter baru dalam pemerintahan Aceh khususnya”. Selanjutnya saat ini ”soft authoritarianism” dengan sangat baik telah dilancarkan oleh pemerintah Aceh dengan atau tanpa disadari oleh mereka yang saat ini mengaku sebagai pemuda dan mahasiswa. Ada beberapa penyebab pergerakan mahasiswa sekarang telah ”Mati Suri” yaitu :
Pertama, Disorientasi. Dalam era reformasi dimana kebebasan telah diraih, mahasiswa menjadi bingung hal apalagi yang patut mereka perjuangkan. Infrastruktur pemerintahan dalam mekanisme kerakyatan telah terbangun (dengan segelintir catatan) sehingga mahasiswa kehilangan orientasi perjuangannya.
Kedua, Jati diri. Sebagian besar mahasiswa saat ini begitu ternyenyak dalam zona nyaman kehidupan mereka. Tak mau lagi mengurusi kesulitan yang dialami bangsa ini. Fokus pada studi, individualisme yang tinggi serta pemahaman akan jati diri mahasiswa yang semakin melemah. Terlebih dengan tuntutan keadaan yang sebenarnya menuntut mereka yang mengaku mahasiswa untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai patriot bangsa.
Ketiga, segmentasi gerakan. Gerakan mahasiswa saat ini juga sangat kehilangan independensinya. Banyak ORMAWA yang kini didanai oleh partai politik tertentu dan menjadi basis pengkaderan sekaligus basis kekuatan demi mencapai kepentingan partai politik yang ada. Terlebih lagi ekslusifitas gerakan seakan membuat mahasiswa saat ini bergerak sendiri-sendiri. ”Upaya penyatuan terlihat kurang signifikan karena dalam setiap aksinya masih saja ada upaya penonjolan almamater masing-masing kampus, emblem-emblem, simbol-simbol internal kampus, serta atribut lainnya. Hal ini berbeda dengan kenyataan dahulu dimana mahasiswa menyatukan semua elemen gerakan mereka dan meninggalkan ekslusifitas dan penonjolan almamater mereka sendiri.
Keempat, Kemajuan Teknologi. Era sekarang sudah mulai dan terus berkembang teknologi yang kian memanjakan manusia. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada generasi muda sekarang. Banyak kasus-kasus kriminal yang terjadi akibat adanya teknologi dan globalisasi ini walaupun tidak bisa kita mungkiri banyak manfaatnya juga. Seperti halnya Facebook, Twitter, dan lain-lain, bisa di manfaatkan untuk penyebaran isu, diskusi, pengangkatan opini publik,. Tapi, tidak bisa disamakan dengan zaman dahulu, baru cuma ada telegraph, dll, itu yang membedakan alur gerakan perjuangan sekarang.”
Kelima, Perubahan Sistem. Pada era sekarang, sistem perkuliahan dibatasi menjadi hanya 6 tahun. Hal ini berpengaruh besar terhadap ”spirit” Gerakan mahasiswa sekarang. Padahal dulu tidak ada yang namanya sistem SKS, semua sama. Kita mau kuliah berapa tahun, itu terserah. Oleh karena itu, terbuka lebar kesempatan kita untuk mengawal Pemerintahan pada saat itu. Tidak seperti sekarang, mahasiswa dituntut hanya untuk belajar, masalah negara dan bangsa, itu tidak soal, yang penting Lulus dan dapat kerja. Kontribusi mahasiswa tidak ada, sekarang. Kalau kalian (mahasiswa) tidak bergerak, maka kami yang akan bergerak!”
Penulis: adalah Direktur Eksekutif Aceh Political Institut (API), Direktur Islamic Education, dan Mantan Aktivis Mahasiswa.
Senin, 22 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar