Islamic Education

Islamic Education
logo

Rabu, 31 Maret 2010

Dayah dan Terorisme di Aceh

Dayah dan Terorisme di Aceh
Oleh : Dedy Susanto
Tradisi pesantren muncul pertama kali untuk mentransmisikan ajaran Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu (al-kutub al-qadimah), atau biasa dikenal dengan “kitab kuning” Tradisi pesantren inilah yang di Aceh juga dikenal dengan tradisi dayah.
Di Aceh, menuntut ilmu agama di balai pengajian atau di dayah sudah menjadi sebuah tradisi yang melekat dalam tipikal masyarakat tradisional Aceh. Paling kurang, setiap orang tua akan menitipkan anak-anaknya di balai pengajian agar anak-anak mereka mampu membaca Al-Qur’an dan memahami hukum-hukum agama. Dan untuk memperdalam ilmu-ilmu agama, dayah sebagai sebuah lembaga pendidikan menjadi pilihan masyarakat tradisional Aceh. Berbicara masalah dayah, setiap dayah di Aceh memiliki tradisi, keunikan dan ciri khas masing-masing dalam pengembangan karakter ilmu pengetahuan Islam. Layaknya sebuah fakultas di perguruan tinggi, ada sebagian dayah yang lebih menekankan pada kematangan bidang-bidang tertentu, sehingga muncullah sebutan-sebutan seperti malem tauhid , malem fiqah, malem tasawuf, malem mantiq, malem nahwu dll. Namun kekhasan dari masing-masing dayah yang berbasis tradisional tetap bermuara pada tiga fungsi besarnya, yaitu proses transmisi ilmu-ilmu keislaman, proses pemeliharaan tradisi keislaman yang bersifat tradisional, dan proses reproduksi calon-calon ulama. Sedangkan dalam hal pengajarannya, dayah tetap mengacu pada prinsip-prinsip tradisi para pendahulunya. Inilah salah satu alasan yang menjadikan dayah tetap bertahan sampai sekarang dengan menjaga tradisi keilmuan para pendahulunya.
Secara historis, dayah sangat berperan besar dalam kemajuan peradaban dan pendidikan di Aceh. Kita harus mengakui bahwa sejarah pendidikan di Aceh juga tidak terlepas dari peranan kelompok dayah. Dalam sebuah makalah yang ditulis oleh M. Hasbi Amiruddin menyebutkan bahwa sejak Islam menapak di Aceh (800 M) sampai tahun 1903 belum ada lembaga pendidikan yang mendidik generasi muda Aceh kecuali lembaga pendidikan dayah. Dayahlah yang telah mendidik rakyat Aceh pada masa lalu sehingga mereka ada yang mampu menjadi raja, menteri, panglima militer, ulama, ahli tekonologi perkapalan, pertanian, kedokteran, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan peran ulama-ulama di masa dahulu, baik mengajar maupun menulis sejumlah kitab di mana telah berhasil mempengaruhi pemikiran-pemikiran Islam di Asia Tenggara. Sehingga telah mengharumkan nama Aceh pada masa lalu sampai diberi julukan Aceh sebagai Serambi Mekkah. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dayah merupakan cikal bakal lahirnya pendidikan Islam dan maupun pendidikan ‘modern’ di Aceh.
Namun, perubahan zaman dengan label isu terorisme perlahan-lahan telah menggangu aktifitas dayah di Aceh. Peristiwa di tangkapnya teroris di Aceh beberapa waktu lalu mambuat sebagian dayah di Aceh merasa risih sehingga beberapa tokoh pun ikut angkat bicara seperti Tgk. Faisal Sekretaris Jendral Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) mengatakan bahwa para teroris hadir di aceh pasca tsunami dan sebagian mereka adalah orang Aceh yang di rekrut di luar aceh (jawa) dan setelah mereka menjalankan pendidikan di luar barulah mereka di terjunkan ke Aceh guna untuk merekrut anggota baru di Aceh. Selain itu wakil gubernur Aceh Muhammad Nazar S.Ag juga mengatakan dayah di Aceh tidak terlibat teroris sebab, dayah adalah tempat untuk belajar ilmu agama.
Berangkat dari beberapa pemaparan di atas bahwa antara dayah dan terorisme tidak mempunyai hubungan. Di Dayah santri memang di ajarkan tentang jihad tapi, bukan tentang bagaimana melakukan aksi terorisme. Seperti Dalam Islam telah jelas konsep tentang jihad itu sendiri yaitu usaha sungguh-sungguh yang dilakukan untuk tegaknya syiar Islam dan usaha itu bisa di lakukan dengan berbagai cara contohnya pelajar yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu itu juga termasuk jihad, melawan godaan syetan dalam diri juga jihad dan sampai kepada tingkatan tertinggi dalam jihad adalah mengangkat senjata untuk membela Islam. Namun, dalam kondisi negara yang aman seperti indonesia di mana umat Islam bisa beribdah dengan tenang tidak diperlukannya untuk mengangkat senjata.
Dayah sudah sangat berjasa dalam mempertahankan kebudayaan lokal Aceh. Kehadiran dayah di tengah masyarakat dapat menjadi momentum sosial dalam melestarikan budaya dan peradaban Aceh. Hal ini dikarenakan sistem pergaulan dan pendidikan di dayah sangat relevan dengan adat istiadat masyarakat setempat yang dilandaskan pada azas-azas keislaman. Contoh kecilnya adalah masalah etika. Di dayah, etika dalam pergaulan sesama santri maupun dengan guru sangat dijaga. Adab terhadap guru adalah faktor utama dalam menuntut ilmu. Diyakini bahwa jika seorang santri durhaka terhadap gurunya maka tidaklah membawa berkah ilmu yang selama ini dituntut. Keadaan ini sangatlah tidak memungkinkan dayah menjadi sarang teroris apalagi menjadi tempat perekrutan dan pendidikan bagi teroris karena, mereka sangat menjaga adab dan etika yang sesuai dengan ajaran Islam.
Namun, untuk mengantisipasi masuk atau menyusupnya doktrin-doktrin tentang teroris maka pemerintah bersama-sama pimpinan dayah di Aceh perlu menyusun langkah-langkah strategis, Pertama adalah reorientasi ulama dayah. Ulama dayah adalah tokoh kunci dalam kemajuan sebuah dayah itu sendiri. Sebagai public figure dalam komunitas masyarakat lokal, ulama dayah haruslah memiliki karakter kepemimpinan dan penguasaan ilmu agama yang tinggi. Ulama dayah dianggap sebagai culture symbol dan tokoh yang jadi panutan masyarakat dalam hukum-hukum Islam. Bila ulama dayah menguasai hukum-hukum islam dengan baik maka, dktrin-doktrin yang berkaitan dengan terorisme bisa di tangkal dengan sendirinya.
Kedua, dukungan intens dari Pemerintah Aceh. Muhammad Nazar, Wakil Gubernur Aceh dalam satu kesempatan mengatakan bahwa ada beberapa strategi yang perlu dijalankan untuk merevitalisasi dayah guna memperkuat perannya di Aceh. Semua strategi ini dinilai dapat membawa perubahan signifikan bila dilakukan secara serius di masa mendatang. Stratetgi-strategi tersebut di antaranya: perbaikan dan penguatan manajemen cara pengelolaan dayah sehingga bisa bertahan dan semakin maju; peningkatan dan penguatan kualitas pengajar; penguatan peran pemerintah, masyarakat termasuk orang tua, selain penguatan regulasi dengan adanya UU Nomor 11/2006 (UUPA) yang membuat kedudukan dayah sama dengan pendidikan formal lainnya; penguatan jalinan kerjasama antara dayah dengan pendidikan lainnya penting dilakukan untuk memperkuat kemandirian dayah melalui usaha-usaha mandiri serta memperkuat netralitas dan independensi. Dukungan Pemerintah Aceh dalam hal pendanaan juga patut diberikan apresiasi. Pada tahun 2008 terdapat 144 miliar lebih dan tahun 2009 sejumlah lebih kurang 230 miliar. Ini merupakan jumlah yang lumayan besar untuk kemajuan perkembangan dayah. Namun pada tahun 2010 terjadi penurunan anggaran yang sempat dipertentangkan oleh sekelompok ulama dayah yang hanya berkisar 57 miliar (sebelum disahkan menjadi APBA). Kita berharap anggaran pemerintah untuk dayah dapat terus ditingkatkan.
Ketiga, membuat sebuah standar Dayah di Aceh mulai dari sistem kurikulumnya, tenaga pengajar sampai kepada sistem penerimaan santriwan dan santriwati dengan tidak menghilangkan ciri khas dayah masing-masing di Aceh.
Akhirnya dayah mau tidak mau memang harus menghadapi dan menjawab tantangan isu terorisme yang di tujukan kepada umat Islam terutama dayah yang menjadi kebanggaan orang Aceh. Dayah di tuntut untuk melahirkan generasi-generasi muda yang mampu mencerahkan dunia Islam di Indonesia pada umumnya dan di Aceh khususnya.
Penulis: Direktur Islamic Education (IE) dan Direktur Eksekutif Aceh Political Institut (API)

Tidak ada komentar: